Kita terpanggil menjadi pendoa. Haleluya

Kamis, 06 Desember 2012

Dimana Gereja, saat Vihara dan Masjid “bersinar”??

Oleh Admin
Sebuah Refleksi menjelang Natal..
Menarik untuk direnungkan, apa yang dikatakan oleh tim PMI Kota Medan saat melakukan sosialisasi Aksi Sosial Donor Darah disela-sela GR Natal Bersama GPI Kota Medan, beberapa waktu lalu di GPI sidang Tanjung Gusta. Menurut mereka, data mebuktikan bahwa Vihara dan Mesjid jauh lebih banyak melakukan aksi-aksi soasial dan kemanusiaan dibandingkan dengan gereja. Hal itu terjadi dari dulu hingga dua tahun yang lalu. Sedangkan dua tahun terakhir, gereja sudah mulai menggeliat dan berpartisipasi dalam kegiatan2 kemanusiaan seperti bantuan bencana alam, aksi sosial donor darah, pembuatan pengobatan gratis, operasi katarak dan kegiatan-kegiatan kemanusiaan lainnya.


Walaupun gereja mulai giat melakukan aksi-aksi kemanusiaan seperti di atas, namun berdasarkan data, masjid dan vihara masih jauh lebih sering. Hal ini, menurut mereka memunculkan tanya di benak pemerintah dan badan2 kemanusiaan lainnya kenapa gereja yang katanya adalah garam dan terang dunia, dengan kasih kepada Tuhan dan sesama sebagai ajaran utamanya malah lalai dan redup disaat vihara dimana penghuninya adalah orang2 Budha dan Masjid yang penghuninya adalah orang2 Islam terus bersinar memberikan dampak dan kontribusi real kepada masyarakat yang membutuhkan?

Menurut saya, ini adalah sebuah tantangan sekaligus teguran kepada gereja untuk menyadari bahwa gereja sudah saatnya semakin peduli dan lebih banyak berpartisipasi melakukan kegiatan2 kemunusiaan, menolong orang2 yang berkekurangan, baik sandang, pangan, darah dengan aksi donor darah, pengobatan gratis bagi orang2 miskin dan lain-lain. Ini adalah bagian dari tugas gereja tanpa melupakan tugas penting lainnya yaitu membina kerohanian jemaat. Biar bagaimanapun, dunia menunggu tindakan2 aplikatif ke lapangan akan ajaran2 kasih kepada sesama yang dipegang oleh orang Kristen. Dan ini adalah saatnya kita mulai masuk ke “alam nyata”, tidak hanya berkoar koar di dalam gedung gereja, tetapi masuk ke lapangan dengan segala keadaan dan tantangannya.

Gereja perlu menaikkan terangnya ke atas gunung setingginya, sehingga dunia bisa melihat sekaligus merasakannya. Mengimbangi bahkan mengalahkan “sinar” masjid dan vihara yang dari nun jauh telah berlari mendahului gereja untuk merealisasikan ajaran mereka: mengasihi dengan bukti nyata.

Tak terkecuali Gereja Pentakosta Indonesia. Jika mau jujur alias sadar diri, gereja kita sangatlah minim seminim minimnya turut dalam kegiatan2 kemanusiaan. “Ketidak punyaan” kita mungkin jadi alibi untuk membela diri, tetapi alasan itu tentu hanya diberi nilai rendah, sebab bukankah kita mengetahui bahwa jika kita memberi, maka kita akan menerima kelimpahan berkat?

Natal dengan segala hiruk pikuknya adalah momentum yang sangat tepat bagi gereja untuk mencoba membuka jalur baru untuk bisa menunjukkan sinarnya. Saya coba buat hitung-hitungan kasar, bahwa selama bulan Natal bulan Desember perayaan2 Natal di Lingkungan Gereja Pentakosta Indonesia menghabiskan dana yang jumlahnya tak kalah fantastis. Dalam tempo kurang dari 1 bulan, kita menhabiskan dana tak kurang dari Rp 2.000.000.000 alias Dua Milliar Rupiah. Pertanyaan refleksinya adalah: berapa persen dari 2M yang bisa kita bagi kepada orang2 miskin, orang yang kekurangan, orang2 yang sedang kritis, panti asuhan, panti jompo dan lain2? Belum lagi bila kita menyadari bahwa kadang2 Perayaan-perayaan Natal kita bukannya sepenuhnya berfokus kepada Tuhan, melainkan sering adalah untuk memuaskan dan memenuhi keinginan kita. Tak jarang pula sehabis natal bukannya meningkatkan rasa damai dan kasih antar sesama seperti harapan panitia, malah sering terjadi perselisihan dan bertengkaran. Bisa karena uang, bisa karena perbedaan prinsip dan bisa pula karena kepentingan-kepentingan yang berbeda.

Okelah, lupakan itu. Wong dimana-mana juga sering terjadi perselisihan2 dan perbedaan2 kecil. Apa yang saya ingin sampaikan secara persuasif adalah supaya kita khusunya Gereja Pentakosta Indonesia mulai membiasakan diri untuk melakukan sesuatu yang bermanfaat kepada sesama manusia, kalau belum bisa menjangkau lintas agama, minimal sesama Kristiani. Tidak bisa menumbang uang, bisa barang, tidak bisa barang donor darah juga mulia..

Mengutip sebuah lagu Pujian:
Bersinar...bersinar... Itulah kehendak Yesus..

Bersinarrr...bersinar... Aku bersinar terusss

Haleluya!!!!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar