Kita terpanggil menjadi pendoa. Haleluya

Kamis, 16 Agustus 2012

Bagaimana Saudara Akan Mati ???

Oleh: Gr. Sahala Napitupulu, GPI Sidang Ujung Aspal-Jakarta

Sebuah keniscayaan bahwa suatu hari nanti kita akan mati. Tetapi, bagaimana dan dimana kita akan menghembuskan nafas terakhir kita, itulah soalnya. Sehingga disini kita tidak akan bicara tentang apa itu kematian atau tabir kematian. Dan kita pun harus sepakat lebih dahulu, bahwa waktu kematian setiap orang ada ditanganTuhan. Singkatnya, disini kita tidak mempersoalkan tentangWhat and When, melainkan Where and How dari kematian setiap orang itu.

Beberapa waktu lalu, salah seorang sintua kami St.S.Situmorang telah pergi menghadap Bapa di sorga. Dia meninggal dunia saat beliau tengah melayani Firman Tuhan, saat kami dalam ibadah jumat malam di GPI Ujung Aspal, Bekasi. Saat beliau berkotbah malam itu terasa bagi kami berbeda memang. Tidak saja ia meyani dengan penuh semangat, namun juga penampilannya untuk melayani.

Malam itu ia mengenakan pakaian lengkap dengan dasi dan jas, sesuatu yang tidak pernah kami lakukan dalam ibadah malam, khususnya bagi kami para sintua dan guru injil. Sintua kita ini barangkali melayani hanya antara10 15 menit sebelum akhirnya ia meninggalkan dunia yang fana ini. Dalam istilah dunia kedokteran, sebab kematiannya disebut sebagai heart attack atau serangan jantung. 

Dan kita juga baru mendapat kabar bahwa beberapa waktu lalu (Minggu 29 Juli 2012) , salah seorang guru injil kita dari GPI Sm.Raja Medan, Gr.T.Siburian, menghembuskan nafas terakhirnya ketika ia baru saja selesai berkotbah. Bisa diduga sebab kematiannya juga karena serangan jantung. Dan saya yakin, sebelum Sintua Situmorang dan Gr.T. Siburian, telah ada hamba-hamba Tuhan lainnya yg sudah lebih dahulu mengalami kasus yang sama.

Pertanyaan saya : Apakah menghadapi kematian dengan cara seperti itu bagi seorang hamba Tuhan, ia elegant atau tidak ? Mereka mati pada saat melayani, apakah ini sebuah kebodohan dan kekonyolan atau kematian yang indah ?

Sepuluh tahun lalu, St.K.M.Sinaga, pendiri PT.Asuransi Bumi Asih Jaya, memberi kepercayaan kepada saya untuk menuliskan perjalanan hidupnya atau membuat buku biografinya. Buku tersebut telah selesai saya tulis dan diberi kata pengantar oleh mantan Ephorus HKBP, Dr.S.A.E.Nababan. Banyak hal yang saya dapat dari perjalanan hidup pak St.K.M.Sinaga ini.

Namun, salah satu yang paling mengesankan saya ialah bahwa beliau setiap hari melakukan latihan untuk mati. Ia menelentangkan dirinya diatas lantai dan seolah-olah ia dalam keadaan mati. Ia lakukan latihan itu setiap hari dan sudah berjalan selama puluhan tahun dengan penuh disiplin antara 5 - 10 menit.

Ketika saya tanya, mengapa ia perlu latihan seperti itu ? Jawabnya kepada saya, kematian itu bagi orang percaya bukan lagi sesuatu yang menakutkan, kematian itu bahkan bila perlu dirindukan, oleh karena kematian itu adalah sebuah keuntungan. Ia lalu mengutip teks dari surat rasul Paulus bahwa hidup bagiku adalah Kristus dan mati adalah keuntungan ! Ia ingin ketika kematian itu datang menjempunya, maka tak ada satu anggota tubuhnya yang merasa keberatan, dari ujung kepala sampai ujung kaki semuanya telah siap bila ajalnya telah tiba.

Sesungguhnya saya merasa bangga dengan hamba-hamba Tuhan kita yg meninggal dunia didalam kesetiaannya, setia pada panggilan pelayananNya sampai pada nafas terakhirnya. Padahal setiap kita pasti tahu, menjadi hamba Tuhan di Gereja Pentakosta Indonesia ini lebih banyak hanya karena loyalitas pada GPI sekalipun GPI tak mampu menggaji mereka. Bahkan saya melihat, banyak hamba-hamba Tuhan di GPI ini secara materi hidupnya dibawah garis kemiskinan ! Namun sekalipun hidup mereka dalam kemiskinan materi dan pelayanan mereka tanpa gaji, tetapi saya melihat mereka masih setia melayani, bahkan sampai pada akhir hidupnya !

Jika kita berbicara tentang hidup dalam kemiskinan materi, maka sudah terbayang bagi kita makanan seperti apa yang mereka konsumsi sehari-hari. Pola hidup dengan makanan sehat, bergizi, bervitamin tentu hanya bisa dipenuhi bagi mereka yang hidupnya telah keluar dari kemiskinan materi. Maka bagi saya sangat anomali, jika kita meletakkan standard pola hidup sehat kepada para hamba Tuhan GPI tanpa lebih dahulu memikirkan kesejahteraan eknomi mereka. Karena itu, saya kira, management GPI kedepannya kalaupun belum bisa menggaji para hamba Tuhannya, setidaknya setiap hamba Tuhan di GPI hidupnya telah diasuransikan, seperti asuransi kesehatan dan asuransi jiwa. Sehingga apabila ada hamba Tuhan GPI yang sakit, maka pihak asuransi yang akan mencover biaya perawatannya dan bila ada hamba Tuhan kita meninggal dunia maka ada sejumlah uang yang memadai yang bisa diterima oleh janda-janda hamba Tuhan GPI.

Kembali kepada soal kematian hamba Tuhan tadi. Mereka telah meninggalkan dunia yang fana ini saat mereka melayani firman Tuhan,  tentu sangat mengharukan dan membanggakan dimata saya. Pertama, karena mereka telah membuktikan loyalitas mereka kepada Kristus dan kepada GPI.Dalam bahasa rasul Paulus bahwa mereka lah yang disebut telah mencapai garis akhir dan mahkota kemenangan dan kehidupan akan menjadi bagian mereka.

kedua, mereka telah meninggalkan dunia yang fana ini tanpa proses yang sulit dan mengkuras dana yang besar. Tentu kita sudah seringkali mendengarkan, banyak orang sebelum meninggal dunia, mereka telah melewati pengobatan demi pengobatan, keluar masuk rumah sakit dalam negeri bahkan luar negeri. Puluhan juta bahkan ratusan juta harus ditanggung oleh keluarga yg ditinggalkan. Terbayangkah oleh kita, jika hal yang demikian harus dialami oleh hamba-hamba Tuhan GPI, dimana hidup sehar-hari mereka saja masih jauh dari kecukupan.? Oleh karena itu, patutlah kita bersyukur karena mereka meninggalkan kita dengan sebuah teladan yaitu setia melayani sampai pada nafas penghabisan. Dan Tuhan memanggil mereka tanpa proses yang sulit dan tanpa harus mengeluarkan banyak biaya.

Sebagai bagian penutup, saya ingin mengulang apa yang pernah saya kotbahkan di GPI Ujung Aspal beberapa tahun lalu. Jika kita tahu bahwa suatu hari nanti kita toh akan mati, mengapa kita tidak pernah berdoa atau meminta kepada Tuhan bagaimana cara mati kita ? Mengapa yang kita minta hanya soal berkat dan kesembuhan saja dari Tuhan ? Pernahkah saudara meminta kepada Tuhan bagaimana supaya mati kita dengan elegant, mati kita dengan indah ?

Salam pentakosta.

Bekasi 4 Agustus 2012.
Selengkapnya...

Senin, 13 Agustus 2012

KHOTBAH LEBIH DARI SEBUAH CERITA

Oleh:  Bpk Pdt Tehe Harefa, M.A, Koordinator Pembantu Umum GPI Wilayah Nias
(Seminar dan Pelatihan Pengerja GPI Wilayah Nias Tahun 2012)
  1. A.   Pendahuluan
Pemahaman adalah sesuatu yang lebih dari sekedar pengertian intelektual. Pemahaman adalah pengetahuan yang meresapi seluruh pribadi sehingga yang dapat mengatakan ‘ya’ kepada pengetahuan tersebut. Pemahaman adalah pengetahuan yang meresapi kehidupan manusia itu dari kepala sampai ke ujung kukunya dan dari otak sampai ke hatinya. Jika seseorang dapat sampai kepada pengetahuan yang menembus secara menyeluruh ia akan dapat sungguh-sungguh mendengarkan Sabda Allah dan tunduk pada terang yang memasuki kehidupannya yang gelap. Dengan demikian, salah satu tujuan daripada khotbah yang paling penting adalah menyingkirkan hambatan-hambatan yang sangat nyata dan terlalu jelas yang menyebabkan orang mendengar tanpa pengertian.

Khotbah adalah salah satu tugas utama dalam pelayanan kekristenan. Ahli sejarah, ahli Teologi Sistematika, dan khususnya ahli Kitab Suci semuanya dapat memberikan sumbangan yang berharga untuk mengetahui lebih baik tugas pelayanan yang penting ini. Namun kiranya terlalu berani untuk mencoba menggarap berbagai segi masalah khotbah. Oleh karena itu kita harus membatasi diri pada satu pertanyaan saja: “Siapakah yang dapat menyingkirkan rintangan-rintangan yang menghalangi Sabda Allah jatuh pada tanah yang subur?”

Pertanyaan ini sesungguhnya adalah pertanyaan yang berhubungan dengan spritualitas pengkhotbah. Namun sebelum kita mendekati masalah itu secara nyata, pertama-tama kita harus melihat dua kesulitan utama dalam khotbah, yaitu: kesulitan berhubungan dengan pesan dan kesulitan yang berhubungan dengan pembawa pesan.

  1. B.   Kesulitan yang Berhubungan dengan Pesan
Untuk dapat meneruskan pesan apapun kepada orang lain, setidak-tidaknya harus ada kesediaan untuk menerima pesan tersebut. Kesediaan ini berhubungan dengan adanya keinginan untuk mendengar, suatu pertanyaan yang menuntut jawaban atau pesan umum yang tidak pasti dan membutuhkan penjelasan untuk dimengerti. Akan tetapi jika sebuha jawaban diberikan padahal tidak ada pertanyaan, dukungan ditawarkan tetapi tidak ada permintaan, maka satu-satunya akibat yang akan muncul adalah kejengkelan dan ketidakacuhan.
Tidak merupakan suatu rahasia lagi bahwa mereka yang memperhatikan sunguh-sungguh orang-orang di gereja, sering kali merasakan bahwa besarnya jumalh orang yang hadir berbanding terbalik dengan hasrat mereka untuk mendengar. Ada bebrapa hal yang menyebabkan terjadinya kejengkelan dan ketidakacuhan jemaat, yaitu sebagai berikut:
 
  1. Pesan yang berlebih-lebihan
Kalau kita mengatakan bahwa khotbah adalah mewartakan berita gembira/sukacita, penting untuk disadari bahwa bagi kebanyakan orang sama sekali tidak ada sesuatupun yang merupakan berita gembira dalam khotbah.

Pada kenyataannya tidak ada seorangpun mendengarkan khotbah dengan harapan untuk mendengar sesuatu yang belum pernah mereka dengar atau ketahui. Mereka telah mendengar tentang Yesus (muridNya, karyaNya, penyelamatanNya, dll) di rumah, di sekolah, sehingga hal terakhir yang mereka harapkan akan muncul dari mimbar bukanlah sesuatu hal yang baru.

Bila sebuah pesan sudah menjadi terlalu berlebih-lebihan dan sama sekali kehilangan kekuatan untuk menggugah tanggapan yang kreatif, maka pesan itu tidak dapat disebut lagi sebagai pesan. Dan kalau Anda merasa tidak dapat menghindarkan diri dari keharusan hadir secara jasmani waktu pesan itu disampaikan setidak-tidaknya Anda dapat menutup mata dan tidak mau melibatkan diri lagi.

  1. Pesan yang menakutkan
Berlebih-lebihannya pesan hanyalah satu segi pesan yang menghalangi seseorang untuk mendengar. Dan meskipun mungkin benar mengatakan bahwa bagi kebanyakan orang khotbah hampir tidak memberikan sesuatu yang baru, namun pesan inti dari Injil tetap mengandung kebenaran yang belum seutuhnya dinyatakan oleh siapapun. Dan mendengarkan dengan baik tidak lain dari kesediaan yang terus menerus mengakui bahwa kita masih belum mewujudkan apa yang kita percayai. Siapa yang senang mendengar, misalnya bahwa yang terakhir akan menjadi yang pertama, jika dia adalah orang yang pertama. 

Dan siapakah yang ingin mendengar bahwa mereka yang miskin, sedih, lapar, haus dan dianiaya disebut berbahagia, kalau dia adalah seorang yang kaya, puas dengan dirinya sendiri, terjamin, dipuji karena keberhasilannya dan dikagumi oleh teman-temannya? Siapa yang mau mendengar bahwa orang harus mengasihi usuh-musuhnya dan berdoa bagi mereka yang menganiayanya kalau dia menyebut pimpianannya bajingan, memaki anaknya sendiri sebagai bangsat, dan merasa bangga jika mendengar bahwa anak buahnya telah mencincang ratusan orang musuh-musuhnya? Mungkin pesan akan selalu sama selama hidup dan mungkin pula akan diulang kembali dalam berbagai cara dan ungkapan, akan tetapi orang sungguh-sungguh membiarkan pesan itu meresap masuk ke dalam diri, pada saat itu juga membuka kemungkinan bagi dirinya untuk sampai ke pemahaman yang mungkin membawa akibat bagi gaya hidupnya yang tidak diinginkannya. 

Bagaimanapun kebenaran adalah radikal, kebenaran itu menembus ke akar hidup manusia sedemikian rupa sehingga sedikit saja yang menginginkan kebenaran itu sendiri dan kebebasan yang dibawanya serta. Kenyataannya ada ketakutan yang langsung dirasakan untuk berhadapan dengan kebenaran dalam kesahajaan dan kesederhanaannya, sehingga rupanya jengkel dan marah merupakan reaksi yang lebih umum daripada pengakuan sederhana bahwa seseorang termasuk dalam kelompok yang dikecam oleh Yesus.
Berlebih-lebihannya pesan dan ketakukan akan kebenaran rupanya merupakan dua alasan utama mengapa seseorang pengkhotbah menghadapi kesulitan besar untuk dapat sampai kepada pendengarnya. Lebih lagi kalau mereka yang hadir merasa tidak bebas untuk pergi ke luar. Masih banyak yang merasa terikat oleh kekuasaan tertentu, yang telah membuat mereka yakin bahwa kalau mereka tidak bersedia berkorban satu jam dalam seminggu, kelak mereka akan menderita jauh lebih berat kalau hari-hari mereka telah berlalu. Sebagai akibatnya, seorang pengkhotbah sekali lagi berhadapan dengan sebuah tugas yang berat: “Mewartakan berita gembira/sukacita, yang bagi banyak orang tidak lagi merupakan suatu berita yang menggembirakan”.
Sebelum kita bertanya orang yang bagaimana yang akan menembus rintangan yang mengakar dalam dan yang menghalangi sampainya pesan, kita harus jujur untuk mengakui bahwa bukan hanya pesan saja melainkan juga pembawa pesan sendiri sering kali menjauhkan orang dari pemahaman yang menyakitkan namun membebaskan. Maka sekarang marilah kita telaah masalah pembawa pesan.

  1. C.   Kesulitan yang Berhubungan dengan Pembawa Pesan
Banyak pengkhotbah cenderung bukannya memperlemah melainkan memperkuat rintangan yang membuat orang tidak mau mendengarkan, dengan cara yang dipakainya untuk menyampaikan pesan abadi itu. Penyelidikan yang teliti terhadap khotbah-khotbah akan menunjukkan kalau nabi Yesaya memang benar, waktu mengatakan: “engkau akan mendengar tetapi tidak mengerti, melihat dan tidak memahami” (Yesaya 6:9-10), maka pasti banyak pengkhotbah tidak membantu untuk mengecualikan orang dari nubuat ini. Maka kiranya perlu melihat lebih teliti beberapa cara khotbah yang dapat membuat kita mengerti lebih baik masalah yang berhubungan dengan Pembawa Pesan. Dalam hal ini saya berpikir bahwa dua alasan utama mengapa seseorang pengkhotbah sering kali menumbuhkan sikap melawan, bukannya simpati adalah: (1) perasaan-perasaan yang sebetulnya tidak ada akan tetapi diandaikan begitu saja; dan (2) terlalu memikirkan pandangan teologis.

  1. 1.    Perasaan-perasaan yang Sebetulnya tidak ada
Banyak khotbah dimulai dengan membuat pengandaian yang tidak diuji terlebih dahulu. Banyak pengkhotbah begitu saja memaksakan perasaan, gagasan, pernyataan dan masalah kepada pendengar khotbah. Sedang semuanya itu sering kali tidak diketahui oleh sebagian besar dari mereka, kalau tidak oleh semua. Beberapa pengkhotbah mengajar jemaat bertanya kepada diri mereka sendiri mengapa pada hari Pentakosta pakaian liturgi berwarna merah, mengapa hari Minggu terakhir dari tahun liturgi tidak jatuh pada akhir bulan Desember, mengapa puasa berlangsung selama 40 hari, mengapa semua arwah semua orang beriman diperingati sesudah hari raya semua orang kudus. Pertanyaan-pertanyaan yang bagi umat tidak penting tidak perlu disampaikan kepada jemaat secara umum. Sering kali khotbah dibangun atas dasar perasaan-perasaan klerikal yang sering kali asing bagi awam. Saya ingat sebuah khotbah yang dimulai demikian:
Hari ini kita semua berkumpul untuk merayakan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Baru beberapa minggu yang lalu hati kita dipenuhi kegembiraan karena kebangkitan Tuhan kita, dan sekarang bersama-sama dengan para Rasul kita merasakan kesedihan karena Yesus meninggalkan kita lagi. Akan tetapi kita tidak perlu putus asa karena Yesus tidak meninggalkan kita sendirian melainkan akan mengutus Roh Kudus kepada kita yang percaya kepadaNya. Dan bukan hanya kepada para Rasul akan tetapi juga bagi umat yang berkumpul disekeliling altar. Roh Kudus itu akan membawa kehidupan dan harapan baru.

Tidak mengherankan bahwa semua orang melamunkan ketika pengkhotbah selesai dengan pendahuluannya. Saya menghitung kira-kira ada tiga puluh orang tersebar di gereja yang besar dan hampir kosong itu. Rupanya tidak seorang pun ingat bagaimana dia merasa bergembira pada hari Paskah atau merasa susah pada hari Kenaikan Yesus. Tidak ada umat, tidak ada perayaan, tidak ada kesatuan dan pasti tidak ada rasa putus asa atau harapan agar Roh Kudus segera datang. Yang ada ialah beberapa orang yang tidak saling berhubungan yang masih berpikir bahwa hari raya Kenaikan Yesus adalah hari wajib dan masih cukup setia untuk menghadiri kebaktiannya.
Lebih menjengkelkan dari hal di atas adalah para pengkhotbah yang seakan-akan mengetahui secara persis perasaan setiap orang. Contoh yang baik adalah pendahuluan khotbah ini:
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Pada zaman dimana kita telah hanyut dalam arus hidup ala Amerika yang selalu sibuk, dimana kita terpaksa menjadi korban waktu dan budak agenda, yang membuat kita lari dari rapat yang satu ke rapat yang lain, kita telah menjadi tuli terhadap suara Allah yang berbicara dalam keheningan dan menyatakan diri dalam ketenangan doa.

Tentu saja ini semua cukup memberikan gambaran mengenai pengkhotbah. Akan tetapi bagaimana dengan nenek-nenek yang melewatkan sebagian besar waktunya untuk mengisi teka-teki silang, bagaimana dengan anak-anak yang baru saja kembali dari lapangan sepak bola, dan guru mereka yang menggunakan malam minggu untuk membaca buku cerita/novel dan bagaimana dengan ibu-ibu yang menikmati senja dengan anak-anaknya di kebun binatang?
Mungkin seorang dari antara umat mengatakan ‘ya’ kepada pengkhotbah, akan tetapi kebanyakan akan merasa begitu jauh seperti halnya mereka begitu jauh dari gambaran hidup yang selalu dikejar-kejar kesibukan. Mungkin mereka tidak menyadari hal ini, akan tetapi dengan satu atau lain cara-dengan diam seribu bahasa agar aman atau menunjukkan sikap bermusuhan yang tajam- mereka akan menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak sejalan dengan dia.

  1. 2.    Terlalu Memikirkan Pandangan Teologis
Masalah kedua yang lebih sulit untuk diatasi ialah sikap pengkhotbah yang terlalu memasalahkan teologi. Beberapa pengkhotbah begitu terpesona oleh buku baru yang dibaca atau suatu pandangan baru yang didengar sehingga mereka merasa bahwa orang lain harus ikut merasakan kekagumannya. Alasan utama bukannya bahwa gagasan teologi mereka tidak benar atau tidak berarti, melainkan bahwa bukan hanya pengkhotbah akan tetapi pendengar juga mempunyai teologi mereka sendiri-sendiri. Saya akan menjelaskan hal ini dengan sebuah cerita.

Seorang mahasiswa teologi diminta untuk berkhotbah tentang Kerajaan Allah. Dia mempelajari Kitab Suci dengan teliti dan membaca karangan terakhir mengenai hal tersebut. Tetapi ketika dia merasa sudah mempunyai gambaran yang jelas mengenai Kerajaan Allah dan siap membawakan khotbahnya, diusulkan kepadanya untuk lebih dahulu mengunjungi tiga keluarga dimana dia akan berkhotbah dan bertanya kepada mereka apa yang mereka pikirkan tentang Kerajaan Allah.
  • Pertama-tama dia mengunjungi seorang ahli Meteorologi, seorang cendekiawan yang telah membaca banyak buku dalam hidupnya cukup rumit. Dan ahli Meteorologi itu berkata: “Kerajaan Allah adalah pemenuhan janji-janji Allah, dan manusia harus menjauhkan diri dari rasa ingin tahu mengenai bagaimana hal itu persis akan terjadi”.
  • Lalu mahasiswa itu menemui pemilik toko yang baru saja bangkrut dan istrinya sudah bertahun-tahun sakit. Pemilik toko itu berkata: “Kerajaan Allah adalah sorga dimana akhirnya saya akan menerima pahala karena saya bertahan hidup dalam kondisi berat dan susah ini”.
  • Dari sana ia pergi ke rumah seorang petani kaya, yang mempunyai seorang istri yang sehat dan dua anak yang juga sehat dan tampan. Petani itu berkata: “Kerajaan Allah adalah sebuah taman yang indah dimana kami akan melanjutkan kehidupan bahagia yang sudah kami mulai dari dunia ini”.

Mungkin godaan yang paling besar yang dialami oleh seorang pengkhotbah ialah berpikir bahwa hanya dialah yang mempunyai teologi dan yakin yang terbaik yang harus dikerjakan ialah mengajar semua orang yang mendengarkan khotbahnya untuk menerima jalan pikirannya. Namun dengan demikian dia tidak menyadari bahwa dia belum mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri dalam arti yang sebenarnya, karena dia belum mempertimbangkan gagasan-gagasan dan pengalaman-pengalaman mereka dengan sungguh-sungguh seperti dia mempertimbangkan gagasan dan pengalamannya sendiri.

Jika benar demikian maka banyak dari antara mereka yang mendengarkan pandangannya akan menjadi tak acuh atau jengkel tanpa persis tahu mengapa. Dan pengkhotbah sendiri yang telah menyediakan waktu untuk mempelajari buku dan mempersiapkan khotbah akan merasa semakin kecewa kalau dia mulai merasa bahwa tidak seorang pun tidak ingin mendengarkan Sabda Allah. Namun sementara itu dia lupa bahwa Sabda Allah tidak harus persis sama dengan sabda-sabdanya sendiri. Kalau seorang pengkhotbah memusatkan perhatiannya pada perasaan-perasaan yang sebetulnya tidak dialami oleh umat dan terlalu disibukkan oleh teologinya sendiri, dia bukannya saja melemahkan tetapi akan memperkuat sikap menolak yang sudah kian ada terhadap pesan.

Sekarang mungkin kita tergoda untuk bertanya bagaimana pengkhotbah dapat mengatasi masalah ini. Namun sejak permulaan harus kita katakan bahwa pertanyaan itu sendiri keliru, karena tidak ada alat, teknik atau ketrampilan khusus yang dapat memecahkan masalah pengkhotbah tersebut. Oleh karena itu marilah kita sekarang melihat siapakah yang dapat membantu orang lain sampai kepada pemahaman ini.

D.  Orang Yang Menghantarkan Kepada Pemahaman.
Tugas setiap pengkhotbah ialah mendampingi orang lain dalam perjuangan mereka yang terus menerus untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Tugas ini dilaksanakan pertama-tama dengan berbicara mengenai Kristus, yang menghayati hidupnya dengan kesediaan yang semakin penuh untuk menghadapi keadaannya sendiri dan keadaan dunia dinama dia hidup sedemikian rupa sehingga orang lain didorong untuk mengikutinya, artinya agar orang menghayati hidupnya secara otentik, juga kalau cara hidup itu akan mendatangkan air mata dan keringat atau bahkan mungkin akan membawanya kepada kematian yang bengis.

Setiap pengkhotbah diharapkan untuk menyingkirkan halangan-halangan yang merintangi proses pemanusiaan yang menyakitkan ini. Tugas ini adalah tugas yang sulit karena rupanya ada kekuatan melawan yang mendasar dalam diri manusia akan perubahan, sekurang-kurangnya kalau perubahan itu menyangkut pandangan dasar mengenai kehidupan dengan berbagai cara dia menolak penggilan dari Dia yang mengatakan bahwa “Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan kemana engkau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulirkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki” (Yohanes 21:18). Hal ini sangat bertentangan dengan gagasan kita bahwa kedewasaan berarti kemampuan untuk mengurus diri sendiri. 

Yesus menggambarkan kedewasaan sebagai kesediaan yang terus berkembang untuk mengulurkan tangan dan dipimpin oleh orang lain. Maka tidak heran jika seorang pengkhotbah yang berharap untuk mengangkat rintangan-rintangan yang menghalangi proses perkembangan ini dan menjadikan umatNya bebas untuk menyerahkan diri dan membiarkan orang lain memimpinnya, dianggap sebagai seorang yang sangat pemberani.

Dua segi dari berkhotbah yang rupanya paling pokok bagi seorang pengkhotbah untuk mempermudah proses pemanusiaan manusia, adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Kemampuan untuk berdialog.
Dialog adalah cara berkomunikasi/berhubungan dengan sesama baik laki-laki maupun perempuan yang membuat mereka menanggapi apa yang dikatakan berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri. Dengan demikian dialog bukanlah suatu teknik melainkan sikap pengkhotbah yang bersedia masuk dalam satu hubungan dimana tiap-tiap pihak dapat saling mempengaruhi. Dalam sebuah dialog yang sejati seorang pengkhotbah tidak bisa berdiri di luar. Dia tidak dapat tinggal tak tersentuh dan tak terkena. 

Ia harus seituhnya terlibat secara pribadi. Proses semacam ini merupakan sebuah proses batin yang murni dan tidak memakai pertukaran kata tetapi menuntut keterlibatan yang benar-benar dalam hubungan antara dia yang berbicara dengan mereka yang mendengarkan. Akan tetapi jikalau seorang pribadi yang gelisah dan tak dapat ditembus, didekati oleh seorang kawan yang menyatakan solidaritas terhadapnya dan menawarkan pemahaman dan pengertian sebagai sumber pengenalan dan penjernihan, kalau kekalutannya dapat diangkat dan jalan yang dapat membawanya kepada terang akan mejadi tampak.

  1. 2.    Keterbukaan
Keterbukaan adalah syarat utama untuk setiap dialog, yang mengarahkan kepada pemahaman yang membebaskan. Seorang pengkhotbah yang bersedia terbuka menjadikan pengertian akan iman dan kebimbangannya, kecemasan dan harapannya, ketakutan dan kegembiraannya sendiri sebagai sumber pengenalan yang dapat digunakan oleh orang lain. Tidak akan dapat berharap untuk mengangkat berbagai rintangan yang menghalangi Sabda Allah agar menghasilkan buah.

Akan tetapi persis disinilah kita sampai pada spiritualitas pengkhotbah itu sendiri. Supaya dapat terbuka bagi orang lain, ia harus pertama-tama terbuka bagi dirinya sendiri. Seorang pengkhotbah yang ingin menjadi seorang pemimpin sejati ialah orang yang dapat membuka seluruh pengalaman hidupnya, misalnya pengalamannya dalam doa, pengalaman dan bercakap-cakap dan dalam saat-saat sepi dan membuat dirinya bersedia bagi mereka yang memintanya sebagai pengkhotbah mereka. Pelayanan pastoral tidak berarti lari kesana-kemari, mencoba menebus umat, menyelamatkan mereka pada saat terakhir atau menempatkan mereka pada jalan yang benar melalui pemikiran yang baik, kata-kata yang cerdik, atau nasehat yang praktis.

Kalau orang mendengarkan seorang pengkhotbah yang sungguh-sungguh terbuka bagi dirinya sendiri dan oleh karena itu dapat menawarkan pengalaman hidupnya sebagai sumber pengenalan, dia tidak lagi harus merasa takut untuk berhadapan dengan keadaan dirinya sendiri dan dunia ini karena orang yang berdiri di hadapannya adalah saksi-saksi hidup yang menunjukkan bahwa pemahaman membuatnya bebas dan tidak membuahkan kecemasan-kecemasan yang baru. Baru pada saat itulah ketidak-acuhan dan kejengkelan dapat disingkirkan. Dan saat itu juga Sabda Allah yang begitu kerap diulang akan tetapi dimengerti begitu sedikit, menemukan tanah yang subur dan berakar dalam sanubari manusia.

Dengan demikian kita sudah melihat bagaimana melalui keterbukaan dialog yang sejati yang dapat membawa ke pemahaman yang baru, dapat terjadi. Ini berarti bahwa Sabda Allah yang merupakan tanda perbantahan dan pedang yang menembus hati manusia, hanya dapat sampai kepada seseorang kalau sudah menjadi darah dan daging dari dia yang mengkhotbahkannya. 

Tuhan Yesus memberkati.  HALELUYA!!!!
Selengkapnya...

Jumat, 10 Agustus 2012

JAMINAN Kepedulian Yesus

Oleh: Pdt Albert Aritonang, S.Th
 
Nats: Yoh 11:1-6

Secara umum, bahwa kaum awam mungkin berpikir ketika kita tidur, maka Tuhan Yesus juga akan tidur/beristirahat. pada hakekatnya, bahwa Yesus tidak pernah tertidur. melainkan Yesus tetap menjadi sahabat dalam hidup kita.

Jika Yesus sudah memberi diri menjadi sahabat kita, Dia akan setia setiap waktu dan mau berkorban bagi kita. dan sebaliknya, sejauh mana kita memberikan apa yang kita punya untuk Tuhan. seperti yang telah dilakukan oleh Maria, mahkota yang paling tertinggi bagi manusia (perempuan), dia korbankan untuk Yesus dengan cara meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya.

Ada 3 hal yang sangat penting bahwa Yesus sebagai sahabat kita melalui kebangkitan Lazarus yaitu:

1. Yesus penuh kasih (ayat 3-5)
    Yesus mengasihi hidup kita dimana Maria dan Marta memberitahu bahwa Lazarus sakit, tetapi Yesus tahu apa yang terjadi saat itu. kadang-kadang penyakit itu Tuhan ijinkan di dalam hidup kita supaya kita mengerti akan kasih Tuhan . dan Tuhan sudah memberi jaminan bagi setiap orang yang memiliki iman (Ibrani 11:1)

2. Yesus penuh pengertian ( ayat 21-26)
    Allah mengerti dalam segala kondisi hidup setiap orang, hal yang tidak mungkin bagi manusia atau hal yang konyol sekalipun Yesus mampu mengerjakannya bagi kita jika kita percaya.
kebangkitan dan kematian secara lahiriah dan kebangkitan yang kekal hanya ada di dalam Yesus, tetapi kita harus percaya dan dengan iman menerima Dia sebagai Juruselamat.

3. Yesus penuh kuasa (ayat 37-44)
    pastikan bahwa Allah telah bersahabat dengan kita, maka Allah akan sibuk untuk menyelesaikan setiap persoalan kita.

HALELUYA!!!!!!!!

Selengkapnya...

Minggu, 05 Agustus 2012

Susah atasi Kemarahan? Ini solusinya!!

Oleh: Bpk St Ramsis Juando Nadeak, S.Psi. dari GPI Sidang Tangerang-Banten

Nats : Efesus 4 :32-33
“Segala kepahitan, kegeraman,kemarahan,pertikaian dan fitnah hendaklah dibuang dari antara kamu,demikian pula segala kejahatan.Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain,penuh kasih mesra dan saling mengampuni sebagaimana Allah di dalam Kristus telah mengampuni kamu”

Kemarahan : Reaksi perasaan emosi yang merupakan kejadian menyakitkan,Gejolak emosi yang timbul pada saat terancam.

“suatu ketika saya mengendarai kendaraan di dalam suatu perjalanan menuju ibadah malam di rumah jemaat di depan saya ada sepeda motor yang lambat lajunya sehingga dengan hati yang dongkol saya klakson sekuatkuatnya karena waktu yang sudah telambat,namun sepeda motor ini malah sengaja memperlambat lagi lajunya dan memberikan tangan dengan jari tengah diacungkan dengan marah saya kejar itu motor  tiba tiba istri saya mengingatkan (kita mau mau kebaktian kok malah cari persoalan dengan marah –marah,kamu itu Hamba Tuhan) tersentak hati saya dan saya berkata Ampuni saya Tuhan”

Kemarahan dapat terjadi tanpa kita harapkan dan pengaruh emosi keluar dari seluruh tubuh.Sebetulnya marah adalah sesuatu yang alamiah dan bila tidak diatasi dengan baik akan mengalami masalah yang lebih besar lagi dan akan mempengaruhi jiwa,tubuh maupun kerohaniaan kita.
Dalam alkitab dalam bahasa yunani pengungkapan kemarahan  disebutkan :
   1.       Orgin :kemarahan atas dosa dosa akan perbuatan yang tidak benar.
Matius 21 :12 berkata”lalu Yesus masuk ke bait Allah dan mengusir semua orang yang berjual beli di halaman Bait Allah.Ia membalikkan meja meja penukar uang  dan bangku bangku pedagang merpati”Kemarahan Yesus ini yang disebutkkan kemarahan orgin yaitu kemarahan tanpa kebencian dan ditujukan kepada ketidak adilan.Gejolak emosi Yesus dapat dikontrol karena ketidakadilan.Namun kita harus waspada bila kemarahan ini akan menjadi ajang balas dendam bila kita tidak mengontrolnya.

   2.       Parogismus : kemarahan karena sakit hati atau karena tersinggung.
Efesus 4 : 26 “Apabila kamu menjadi marah janganlah kamu berbuat dosa :Janganlah Matahari terbenam sebelum padam amarahmu”.Janganlah kita sampai marah karena sakit hati,marah karena tersinggung dan ini akan memberi kesempatan kepada iblis jika dibiarkan akan menjadi dosa

   3.       Tumos : geram atau marah yang meluap luap (efesus 4 :31)

Kenapa kita marah? Marah adalah emosi yang dikeluarkan karena peristiwa yang menyakitkan .Ekspresi kemarahan ada bermacam macam.Bayi  mengungkapkan kemarahannya dengan menangis tapi kalau sudah dewasa diekspresikan lewat kata-kata,raut muka.Ketika suami pulang dari kantor didapati istri ngomel ,anak rewel sehingga suami menjadi marah sampai kucingpun harus jalan pelan-pelan
Orang bisa marah karena kecewa misalnya: punya usulan tapi ditolak oleh bosnya .Orang bisa marah karena malu dan dihina misalnya: miskin Lu,udah miskin belagu.Orang bisa marah karena stress misal : phk dari tempat pekerjaannnya.

Ekspresi kemarahan :
  1.       Pasip : Orang yang  jengkel tapi dipendan dalam hati.Ekspresi kemarahan ini berbahaya bisa menjadi penyakit dalam
 2.       Agresif : Kalau lagi marah tidak mempertimbangkan apapun.Dia memukul,dia memecahkan barang sehingga merugikan orang
 3.       Asertif: Marah tapi disalurkan dalam batas batas yang wajar .ini efektif karena mempertimbangkan orang lain dalam kemarahannya dan tetap mengendalikan diri dalam kemarahannnya.

Kita harus pahami bahwa kemarahan akan mengakibatkan yang buruk dalam jiwanya.Orang yang sering marah marah tekanan darah akan naik,jantung berdebar debar ,otot menjadi tegang ,bisa darah tinggi bahkan bisa sakit stroke.
Orang yang sering marah tidak akan tumbuh rohaninya dengan baik .Damai sejahtera akan hilang dan buah buah roh tdk tampak.

Bagaimana Pandangan Alkitab tentang kemarahan

Dalam efesus 4 :26 “bukan kalau kamu marah tapi dikatakan apabila kamu marah”.Apakah kemarahan selalu berbuat dosa? Bisa ya bisa tidak tergantung dari motivasi dan ekspresinya.Ada kemarahan untuk mendidik misalnya :Anak kita kalau diajak Ke Supermarket/Mall semangatnya luar biasa tapi diajak ke gereja malasnya luar biasa,kita mesti marah terhadap anak kita.Namun kemarahan ini bukanlah dosa tapi untuk mendidik tapi bukan memukul dan menendang. Namun kemarahan yang yang membabi buta itulah yang dinamakan dosa .Apapun bentuk kemarahan ini kita harus hati hati  karena kemarahan itu ibarat api ,api yang kecil digunakan untuk kompor tapi bisa membakar seluruh rumah sebabnya adalah kemarahan ini berkaitan dengan perasaan (perasaan yang meledak ledak seperti api)

Matius 5 :22 berkata “Tetapi aku berkata kepadamu :Setiap orang yang marah terhadap saudaranya harus dihukum”
Yang dimaksud dengan kemarahan yang dilarang adalah kemarahan yang tidak terkontrol disertai dengan kebencian.Ini merupakan suatu kejahatan.

Saya tidak tahu dengan kondisi saudara,Mungkin saudara sering marah marah hari ini karena jengkel ,sakit hati dan iri .Ini merugikan  dirimu sendiri dan juga orang lain baik Tubuh ,Jiwa dan roh”

Ada petunjuk untuk mengatasi kemarahan :
   1.       Kita harus berdoa
Agar kita bisa mengendalikan diri.Dalam Pengkhotbah 7 :8-9 “Panjang sabar lebih baik daripada Tinggi hati .Janganlah lekas marah marah dalam hati karena amarah menetap dalam dada orang bodoh”.Jadi menurut alkitab orang yang gampang marah adalah orang bodoh.Mungkin saudara berpikir Saya ini sudah terlahir dengan keras wataknya dan tak bisa dirubah lagi,Bagaimana caranya adalah berdoa.Kita mungkin marah karena orang lain bodoh karena tidak menuruti perintah yang kita suruh tapi waktu kita berdoa ada keteduhan hati.Saya tau kalau saudara sering marah marah saat saat ini saya katakan karena Hubunganmu dengan Tuhan renggang.Kalau saudara dekat dengan Tuhan hatimu tentram ada damai dalam hatimu dan saudara dapat berkata “Bapa ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka perbuat”namun kalau saudara tidak dekat dengan Tuhan mungkin saudar berkata “Salibkan Dia,Salibkan Dia”

   2.       Berpikir dengan benar
Pikir dulu sebelum bertindak ,pikir dulu sebelum berkata.Kadang kita marah namun kita tidak tahu kondisi yang sebenarnya. Dalam Yakobus 1 :19-20 “Hai saudara saudara yang kukasihi ,ingatlah hal ini ;setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar,tetapi lambat untuk berkata kata ,dan juga lambat untuk marah”.Suatu ketika ada seorang Bapak melihat anak pulang sekolah “mana raportmu? Dilihatnya di bangku raport banyak merah ,bapanya marah marah ,Tunggu dulu pak jawab anak itu,ini jelas ada hitam di atas putih bahkan ini sudah jelas ada merah diatas putih.Itu bukan raport saya pak,dikeluarkan raport anak ini dari tasnya dan dilihat bapak ini nilai 8 dan 9.lho ini raport siapa?dilihatnya bahwa itu raport bapaknya waktu masih kecil.Bapa itu malu luar biasa.Oleh karena itu jangan berpikir jelek dulu dengan orang lain  namun kita harus gunakan ratio kita ,harus ada solusi jangan langsung marah marah .arahkan energi kemarahan saudara untuk melakukan kegiatan yang berguna seperti olahraga,bernyanyi.

   3.       Kendalikan Lidah
Sering kali kita tidak pernah mengontrol kata kata kita,seringkali kita mengatakan kata kata kasar,menyakitkan hati bahkan kebun binatang dibawa bawa.Untuk itu kendalikan lidah kita
Amsal  15 : 1 “Jawaban yang lemah lembut meredakan kegeraman tapi perkataan yang pedas membangkitkan marah”.Kalau ada orang yang marah kita jawab dengan lemah lembut,maka orang marah itu akan lunak.

   4.       Bereskan akar masalah
Kalau ditunda tunda maka akan digunakan oleh iblis ,bahwa kemarahan akan berlanjut bahkan merugikan.

Firman Tuhan mengajarkan agar kita penuh dengan mesra,saling mengampuni dan hidup dalam kebajikan. Halleluyah
Selengkapnya...

Kamis, 02 Agustus 2012

STRATEGI PELAYANAN DAN PENGINJILAN DI ERA MODERNISASI



Oleh: Pdt T Harefa, MA, M.Th

(Koordinator Pembantu Umum GPI Wilayah Nias, tengah dalam gambar)


  1. 1.    Pengantar
Pada dasarnya setiap manusia memiliki kecendrerungan untuk hidup lebih baik di hari esok dari hari ini. Untuk mencapai hal tersebut, maka setiap orang senantiasa berupaya dengan segenap ‘daya’ yang dimilikinya. Keinginan tersebut telah menjadi suatu pandangan untuk memotivasi manusia berpikir dan bekerja demi tujuan mendapat hidup yang lebih ‘baik’.
“Harapan” mendapat kehidupan yang lebih baik meliputi berbagai aspek kehidupan menurut kebutuhan dan keinginan masing-masing. Untuk meraih harapan atas keinginan tersebut maka timbul kemauan dari manusia yang disertai dengan usaha.

Perkembangan manusia dari waktu ke waktu mengakibatkan pergeseran sikap dan mentalitas manusia. Proses pergeseran mentalitas dan sikap manusia yang timbul dari usaha manusia itu sendiri untuk memenuhi kebutuhan zamannya disebut: “MODERNISASI”.
Modernisasi dalam realitanya memberi kemudahan pelayanan dalam hidup manusia baik teknik maupun waktu. “Kemudahan” demikian menjadi salah satu daya pikat tersendiri yang semakin berat memberi daya dorong bagi perkembangan Ilmu Pengetahuan yang melahirkan “Teknologi”, yakni: teknik/metode ilmiah untuk mencapai tujuan praktis.

Perkembangan teknologi yang begitu pesat merambah berbagai sisi kehidupan manusia yang dampaknya tidak hanya menyentuh sekelompok orang dalam lingkungan tertentu tetapi sangat dimungkinkan meliputi kehidupan manusia secara menyeluruh (global). Pemicu yang memacu dampak global didominasi oleh kemajuan teknologi komunikasi mutakhir yang membuat dunia terasa sempit.

Dalam dunia yang dilanda oleh arus modernisasi, kita jangan pernah berpikir untuk menghentikannya dan atau membendung laju perkembangannya, tetapi mari kita berpikir positif untuk senantiasa tetap eksis dengan jadi diri sebagai anak-anak Allah. Sebagai anak-anak Allah mari berpikir global seperti amanatNya untuk menjadi Garam dan Terang Dunia (Matius 5:13-14) dan panggilanNya untuk menjadi saksi di seluruh dunia (Matius 28:18-20; Markus 16:15; Kisah Para Rasul 1:8).

Pelayanan Penginjilan adalah salah satu tugas utama dari seorang umat Tuhan atau orang percaya. Pelayanan Penginjilan bukan saja hanya dilakukan oleh Pendeta, Guru Injil, Sintua, Penginjil tetapi adalah merupakan tugas dan tanggung jawab semua orang percaya (Matius 28:18-20; Markus 16:15; Kisah Para Rasul 1:8)

  1. 2.    Yesus dan PelayananNya
Dalam Markus 16:15 Pekabaran Injil ditujukan kepada ‘segala makhluk’. Markus memakai istilah ‘segala makhluk’ yang dalam bahasa Yunaninya: KTISIS (Ktisis) yang artinya:
1)      Segala Ciptaan
2)      Setiap orang
3)      Segenap dimensi hidup manusia (makhluk sosial, ekonomi, politik, hukum, dsb)
4)      Institusi (Lembaga/organisasi).

  Dengan demikian, misi ini adalah membawa pembebasan, kehidupan, damai sejahtera bagi semua orang tanpa membedakan status sosial, jenis kelamin tanpa dibatasi oleh suku, ras, bahasa, kepada segala makhluk ciptaan Allah. Inilah Amanat Agung yang diberikan kepada manusia, kepada gereja sebagai persekutuan orang-orang percaya, yaitu pelayanan yang utuh dan menyeluruh yang disebut dengan: “Pelayanan Holistik”.

Bila mengkaji secara mendalam Markus 10:45, maka inti kedatangan Yesus adalah ‘melayani’, yakni memberitakan Kerajaan Allah. Pemberitaan tersebut membawa keadilan, keselamatan, dan perlindungan bagi mereka yang sakit, miskin, hina, yang tertindas, janda dan yatim-piatu. Kehadiran Allah mengundang manusia untuk bertobat, meninggalkan dosanya yang memisahkannya dengan Allah. Kerajaan Allah sudah nyata dan kepada orang miskin diberitakan Kabar Baik (Matius 11:5), kuasa Iblis dipatahkan (Lukas 11:20) dan pembebasan dinyatakan (Lukas 4:18-19).

Hal kedua yang perlu kita telaah dari Pelayanan Yesus adalah sikapnya yang memprioritaska orang-orang  terlantar. Yesus adalah seorang yang sangat perka dan hirau yang selalu siap mengulurkan tangan bagi mereka yang membutuhkan pertolongan. Kesejahteraan rakyat yang prioritas bagiNya manusia lebih penting dari Hukum Taurat, tradisi, institusi, hirarkhi, struktur atau sistem. Ia mengatakan: “Manakah yang diperbolehkan pada hari Sabat, berbuat baik atau berbuat jahat, menyelamatkan nyawa orang atau membunuh orang?” (Markus 3:4).

Kemajuan pesat di bidang tekonologi komunikasi dan informatika telah menjadi sarana ampuh globalisasi. Waktu dan tempat tidak lagi menjadi masalah yang berarti. Dunia yang dulunya dilihat dengan berbagai jurang pembatas dan sekat pemisah, tetapi kini dengan kehadiran teknologi modern, dunia seolah tanpa batas.
Bersamaan dengan kemajuan yang sedemikian pesat sekaligus mengakibatkan perubahan di berbagai dimensi kehidupan dan arah: baik ekonomi, sosial, budaya, religius, yang menghantar setiap orang masuk ke dalam satu bentuk ‘budaya baru’, yaitu: “Budaya Global”. Kita tidak perlu harus anntipati terhadap berbagai kemajuan, namun kita tidak boleh terbuai dengan segenap kemajuan tersebut atau pasrah, tidak mau tahu dan atau pesimis.

Panggilan kita dalam kondisi dunia dewasa ini di tengah arus globalisasi, harus mampu antisipatif terhadap dampak negatif dan kompetitif akan berbagai kemajuan dan perubahan menurut kompetensi masing-masing. Kemajuan di berbagai sektor dapat kiranya menjadi motivasi bertumbuh dalam paradigma baru, memahami tugas dan tanggung jawab ‘guna pelaksanaan yang relevan’ tanpa kehilangan integritas diri sebagai anak-anak Allah.

Kita dituntut melihat secara cermat untuk menyadari dampak setiap kemajuan yang lahir sebagai konsekwensi logis modernisasi dan globalisasi untuk dapat menentukan kebijakan dan atau langkah antisipatif. Realita kehidupan masyarakat kita menampilkan berbagai perubahan baik yang ditimbulkan oleh dampak atau akibat langsung maupun bias dari kemajuan itu sendiri. Kehidupan beriman ditantang untuk bertumbuh semakin dewasa menghadapi tantangan dari modernisasi dan globalisasi. Beberapa hal yang perlu kita gumuli dalam menghadapi perubahan dari kehidupan modern dewasa ini baik menyangkut mental maupun pola pikir yang merasuki kehidupan manusia.

  1. 3.    KEHIDUPAN MANUSIA DI ERA MODERN
    1. A.   Tunduk kepada Dua Tuan (Berhala Modern)
Menurut Poerwadarminto dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, mengatakan bahwa: “Berhala” adalah segala sesuatu yang dipuja seperti patung dan sejenisnya yang selalu dipuja, menghormatinya sebagaimana memuja kepada Tuhan. ‘Memberhalakan’ adalah mendewa-dewakan atau memuja sesuatu.

Dari definisi di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa berhala adalah sesatu yang dipuja dan disembah karena dianggap lebih besar, lebih kuat, lebih berkuasa dari dirinya sendiri. Pemujaan dan penyembahan adalah sesuatu yang berkaitan dengan kepercayaan atau keimanan. Orang yang memuja dan menyembah atau yang mendewakan sesuatu seperti berhala maka kepadanyalah seseorang itu mengabdikan diri atau memperhambakan diri. Jika sudah terjadi yang dinamakan ‘memperhambakan diri’ maka seseorang rela mempersembahkan dan mempercayakan seluruh hidupnya kepada sesembahannya itu.

1)      Berhala Kuno
Dalam Keluaran 20:3 dikatakan bahwa: “Jangan ada padamu Allah lain di hadapanKu”. Dari nats ini kita tahu bahwa sudah sejak lama manusia telah mengenal yang disebut dengan penyembahan dan pemujaan kepada Tuhan. Itulah sebabnya Allah memesan kepada bangsa Israel melalui Musa supaya umatNya tidak menyembah kepada Allah lain selain kepadaNya.
Pada zaman dahulu kala di masa nenek moyang kita masing-masing suku atau daerah memiliki sesembahannya sendiri. Seperti di daerah dan suku Nias kita mengenal yang namanya ‘patung’ atau “ADU ZATUA”. Kepada ADU tersebutlah orang-orang Nias menyembah dan memuja. Segala kepercayaan dan pengharapan ditujukan kepada ‘Adu’ bahkan orang-orang Nias boleh dikatakan telah memperhambakan dirinya kepada ‘adu’. Akan tetapi setelah Injil Yesus Kristus memasuki Pulai Nias pada tanggal 30 Oktober 1865 oleh Misionaris dari Jerman bernama Tuan Denninger, maka sedikit demi sedikit kepercayaan kepada ‘adu’ semakin berkurang dan mengarahkan iman kepada Yesus Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat.

Seperti manusia merasa kurang sesuatu dalam hidupnya jika tidak ada penyembahan. Ini berarti bahwa bahagian dari hidup manusia adalah bertuhan dan beriman. Ketika Musa menghadap Allah di Gunung Sinai selama 40 hari dan 40 malam maka bangsa Israel yang sedang menunggu seakan-akan tidak sabar menanantikan Musa turun dari Gunung Sinai itu dan menemui mereka. Sehingga akibat dari ketidaksabaran mereka tersebut mereka memaksanakan Harun untuk membuat bagi mereka patung untuk disembah. Sehingga mereka mengumpulkan semua emas dan perhiasan mereka dan Harun secara terpaksa mengikuti tuntutan bangsa Israel dan membuat Patung Lembu Emas dan kemudian mereka menyembahnya, bersorak-sorai memujinya melebihi dari segala-galanya sehingga suara mereka kedengaran sampai jauh. Tetapi tidak lama kemudian Musa turun dari Gunung Sinai karena telah terlebih dahulu mengetahui apa yang telah dilakukan oleh bangsa Israel. Dan apa yang terjadi? Musa sangat terkejut melihat apa yang telah diperbuat oleh bangsa Israel yang menyakitkan hati Tuhan. Dengan perbuatan mereka tersebut maka bangkitlah amarah Tuhan kepada bangsa itu (Keluaran 32:1-35).

Khususnya di daerah dan suku Nias ‘ADU’ yang dikenal sebagai allah yang disembah oleh nenek moyang dahulu kala adalah sering sekali trbuat dari kayu pahatan yang menyerupai nenek moyang atau orang tua yang mereka anggap sakti atau mempunyai kekuatan magis di dalamnya. Akan tetapi seperti yang sudah kita katakan di atas bahwa setelah Injil Yesus Kristus masuk di Pulau Nias maka diberikan pemahaman bahwa penyembahan kepada patung atau ‘adu’ sangat bertentangan denga iman Kristen sesuai dengan pengarahan dan tuntunan dari Alkitab. Pemahaman itu semakin dimengerti dan diterima oleh orang Nias dan sampai saat ini dapat dikatakan bahwa jika ada orang yang masih melakukan penyembahan kepada ‘adu’ merupakan suatu aib di tengah-tengah masyarakat Kristen. Namun demikian, mungkin secara terang-terangan tidak ada yang melakukan penyembahan kepada berhala tetapi secara terselubung jika kita mau jujur maka masih banyak orang Nias yang melakukan penyembahan kepada berhala atau menyembah kepada yang bukan Allah. Hal inilah yang disebut dengan ‘Berhala Modern’.

2)      Berhala Modern
Berdasarkan statistik dari Kantor Kementerian Agama Kabupaten Nias menyatakan bahwa jumlah penduduk Nias yang memeluk agama Kristen sekitar 90-95%. Dari catatan ini kita dapat berbangga karena Injil telah menyebar sampai ke pelosok. Tetapi di balik kebanggaan itu kita harus malu jika kita mau berkata jujur karena kalau kita berprediksi maka dapat kita katakan ‘Puji Tuhan’ jika ada 60% dari 90% tersebut yang benar-benar memahami iman Kekristenannya.

Kita berani mengatakan demikian karena kita telah melihat dan merasakan sendiri apa yang terjadi dalam kehidupan warga jemaat sehari-hari. Jika Firman Tuhan mengatakan bahwa “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenaranNya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (Matius 6:33). Namun demikian pada kenyataannya tidak seperti yang dikehendaki oleh Tuhan justru yang sebaliknya yang dilakukan oleh manusia yaitu mengutamakan kepentingan diri sendiri dan sisa-sisa waktunya, sisa-sisa tenaganya, sisa-sisa harta miliknya yang diberikannya kepada Tuhan. Yesus mengajarkan bahwa: “Kasihilah Tuhan, Allahmu dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu dan dengan segenap akal budimu” (Matius 22:38). Dalam hal ini kita diingatkan bahwa penyembahan kepada Tuhan adalah dengan seluruh eksistensi kehidupan, mengabdikan diri kepadaNya dengan setulus hati dan bukan setengah-setengah hati. Ada beberapa hal yang sampai saat ini masih melekat dalam hidup orang Nias, yang dapat dikategorikan sebagai tindakan penyembahan kepada berhala, sbb:

a)      Penyembahan kepada Arwah Nenek Moyang
Tanpa disadari oleh orang Kristen zaman ini, kita selalu menduakan Tuhan dalam hidup kita. Sering sekali dalam perkumpulan atau persekutuan-persekutuan keluarga Kristen, misalnya acara adat pesta pernikahan, menamai anak yang baru lahir, menempati rumah baru, dll disampaing berdoa dan berserah kepada Tuhan dalam nama Yesus maka sering kali orang-orang tua juga kalau berdoa masih saja mengingat berdoa minta tolong kepada arwah nenek moyang atau arwah orang tua yang telah lama meninggal dunia dengan menyebut nama mereka dan seolah-olah orang yang telah meninggal dunia tersebut ada di tengah-tengah kumpulan keluarga yang sedang melaksanakan hajatan. 

Hal inilah yang kita maksudkan sebagai ‘aib’ pada iman Kristen karena Firman Tuhan mengatakan bahwa tidak ada lagi hubungan orang mati dengan orang hidup (Ayub 7:9-10): ‘Sebagaimana awan lenyap dan melayang hilang, demikian, demikian juga orang yang turun ke dalam dunia orang mati tidak adak muncul kembali. Ia tidak lagi kembali ke rumahnya dan tidak dikenal lagi oleh tempat tinggalnya. Juga dalam Pengkhotbah 9:4-6, “Tetapi siapa yang termasuk orang yang hidup mempunyai harapan, karena anjing yang hidup lebih baik daripada singa yang mati. Karena orang-orang yang hidup tahu bahwa mereka akan mati, tetapi orang mati tidak tahu apa-apa, tak ada upah lagi bagi mereka, bahkan kenangan kepada mereka sudah lenyap. Baik kasih mereka maupun kebencian dan kecemburuan mereka sudah lama hilang, dan untuk selama-lamanya tak ada lagi bahagian mereka dalam segala sesuatu yang terjadi di bawah matahari”. Dan beberapa ayat firman Tuhan yang lainnya yang merujuk bahwa orang yang beriman kepada Yesus tidak diperkenankan mengharapkan sesuatu kepada arwah nenek moyang seakan-akan mendewakan mereka lebih dari Tuhan Yesus Kristus sendiri. Karena itu merupakan aib bagi iman Kristen. (Hosea 4:12; 9:1; Keluaran 20:5; Ulangan 5:9; Yosua 24:19)

b)     Harta Benda
Semua manusia yang hidup tidak pernah menginginkan kemiskinan dan kemelaratan. Karena kedua hal itu merupakan musuh terbesar bagi manusia, sehingga setiap orang selalu menghindar daripadanya. Oleh karena itu, dengan segala daya upaya, manusia berusaha semaksimal mungkin untuk bekerja dan mendapatkan segala sesuatu, seperti materi, harta benda agar melebihi dari apa yang dibutuhkan sehari-hari. Hal kelimpahan dan kekayaan adalah suatu hal yang dianugerahkan oleh Tuhan kepada manusia. Allah tidak menghendaki jika umatNya mengalami penderitaan dan kesengsaraan, tetapi perlu diketahui bahwa segala sesuatu telah diatur oleh Tuhan bagi kehidupan manusia. 

Namun demikian jarang sekali manusia yang bekerja dengan motivasi hanya untuk memenuhi kebutuhan keluarga dan diri sendiri tetapi kebanyakan orang bekerja dan melakukan bahkan menghalalkan segala cara untuk meraup keuntungan yang sebanyka-banyaknya tanpa memikirkan kepentingan orang lain. Tadi telah kita katakan bahwa Yesus mengajarkan supaya ‘Kerajaan Allah’ didahulukan tetapi dengan sikap dan perbuatan manusia yang senantiasa mengutamakan kepentingan dirinya sendiri seringkali melupakan Tuhan. Setiap pagi sebelum matahari terbit bahkan sampai malam semua waktu dipakai untuk bekerja dan tidak pernah mengingat kepada Tuhan. Ini adalah kesia-siaan (Mazmur115:4-8).

c)      Kebutuhan sehari-hari
Dalam Filipi 3:19, Paulus mengatakan bahwa: “Kesudahan mereka adalah kebinasaan, Tuhan mereka adalah perut mereka, kemuliaan mereka adalah aib mereka....” disini kita melihat bahwa akan tiba saatnya bahkan sudah tiba sekarang manusia tidak mengingat lagi kepada Tuhan, tetapi menghabiskan waktunya untuk mencari kebutuhan jasmani, isi perut, makanan sehari-hari tanpa mengingat waktu untuk berdoa, beribadah, mengikuti PA, kebaktian keluarga, kebaktian lingkungan melakukan doa pribadi dengan Tuhan tetapi menghabiskan seluruh waktunya hanya untuk bekerja dan bekerja sehingga hal kerja itulah yang diagung-agungkan, sepertinya perut manusia itulah yang menjadi dewa yang disembah setiap saat. Perlu kita tahu bahwa Firman Tuhan mengatakan: “Untuk apa engkau memiliki seluruh bumi tetapi kehilangan hidupmu?” (Matius 16:25; Markus 8:36). Mengutamakan kebutuhan perut yang sifat sementara tidak ad artinya jika dibandingkan dengan kebutuhan rohani yang membawa kita kepada hidup yang kekal.

d)     Berhala-berhala lain
Ada banyak hal yang menyita waktu manusia, termasuk orang Kristen, untuk tidak menyembah dan tidak mengingat kepada Tuhan, misalnya televisi. Tayangan-tayangan acara di televisi tanpa kita sadari membuat mata rohani kita buta akan Tuhan. Masyarakat terlalu banyak duduk di depan televisi menonton sinetron, dari pada merelakan waktunya untuk bersekutu dengan Tuhan.

Banyak warga jemaat membuat alasan-alasan mengapa tidak ikut peribadatan pada suatu waktu. Tidak ada yang menjaga rumah, tidak ada yang menjaga anak, tidak ada yang menjaga toko, tidak ada yang menjaga ladang, tidak ada yang menjaga kandang ternak, dll. Dari contoh-contoh ini dapat kita tarik suatu kesimpulan bahwa segala sesuatu yang mengikat manusia lebih daripada cintanya kepada Tuhan Yesus maka itulah yang disebut dengan penyembahan berhala.

Penyembahan berhala akan menimbulkan amarah dan murka Tuhan bagi yang melakukannya. Yosua memberikan contoh bagi umat Tuhan dalam Yosua 24:15 “Tetapi jika kamu anggap tidak baik untuk beribadah kepada TUHAN, pilihlah pada hari ini kepada siapa kamu beribadah. Tetapi aku dan seisi rumahku, akan beribadah kepada TUHAN”.

  1. B.   Manusia Hidup dalam Budaya Global
Kecenderungan meniru budaya orang lain semakin trend bahkan cenderung mengagung-agungkannya dan sebaliknya mengabaikan dan atau melecehkan budaya sendiri. Kondisi ini menggejala dalam anutan terhadap tradisi hidup beragama yakni munculnya perasaan jenuh bahkan menganggap kolot (ketinggalan zaman). Dikuatirkan bahwa kekhasan budaya/tradisi semakin memudar/hilang ditelah arus modernisasi dan globalisasi.

  1. C.   Gaya Hidup Instan
Kehadiran berbagai jasa teknologi menghantar manusia kehilangan nilai produktifitas, kreatifitas dan daya inovasi. Setiap orang cenderung memilih gaya hidup serba mudah dan serba cepat (instan), yang pada perkembangannya membangun pola pikir dalam memahami dan meraih segala sesuatu, maunya serba cepat/instan. Gaya hidup instan membias dalam kehidupan religius sehingga pola hidup yang seperti diajarkan oleh Yesus untuk memikul salib, menyangkal diri (Matius 10:38; Markus 8:34), dianggap terlalu sulit dan berbelit tetapi maunya ajaib dan atau serba spektakuler.

D.  Kekerabatan antar sesama Berkurang
 Kemajuan dibidang teknologi komunikasi yang canggih dengan sistim ‘tanpa harus bertatap muka’, mengurangi nilai-nilai keakraban/kekerabatan satu dengan yang lainnya.

  1. E.   Manusia akan menjadi hamba atas penemuannya
Satu tantangan yang cukup berarti adalah di kala manusia tidak lagi menjadi tuan atas penemuannya, tetapi justru sebaliknya menjadi atas penemuannya snediri. Kemudahan yang ditawarkan oleh produk manusia menawarkan rasa ‘nikmat’ yang pada gilirannya oleh manusia mengalami perubahan jiwa ke arah ‘sifat ketergantungan’ terhadap produknya sendiri, hilangnya percaya-diri manusia. Hasil produk manusia menjadi mitra baginya/penolong bagi dirinya sendiri melebihi dari sesamanya. Apabila terjadi hal yang demikian maka fungsi seutuhnya manusia bagi sesamanya telah direbut oleh produk manusia itu sendiri.

  1. F.   Gaya Hidup Materialis
Manusia dalam hidupnya memandang dan memahami segala sesuatu berdasarkan kepentingan atas nilai-nilai materi, hal ini baik dalam berkarya maupun interaksi antar manusia dengan sesamanya. Pola hidup seperti ini menyebabkan rendahnya tanggung jawab moral dan spiritual seseorang dalam melaksanakan tugasnya dan rusaknya etos kerja karena orientasi kerjanya hanya untuk mendapatkan materi. Pola pikir sedemikian membentuk pola hidup manusia yang memahami bahwa materi adalah penolong dan tuan untuk memperoleh segala sesuatu. Salah ciri pola hidup materialis adalah dengan menempatkan ‘nilai materi’ menjadi tolok ukur terhadap sejahtera dan atau bahagianya seseorang. Setiap orang berlomba untuk mendapatkan sesuatu dan rendahnya kesadaran untuk memberi atau berkorban (Kisah Para Rasul 20:35), sehingga keberhasilan seseorang diukur menurut jumlah yang diperolehnya dan bukan atas berapa banyak yang diberikannya.

  1. G.   Gaya Hidup Konsumtif
Daya pikat yang timbul dari sentuhan teknologi oleh berbagai kemudahan dari pelayanan jasa yang praktis, setiap konsumen mengalami kecenderungan jiwa yang mengandalkan ‘jasa’ yang mengakibatkan hilangnya daya kreasi/daya cipta seseorang. Pada gilirannya hidup yang demikian mengakibatkan ketergantungan yang mengandalkan jasa yang sifanya praktis dan instan. Mudah tergoda dan tergiur oleh berbagai hal baru, rasa bosan dan tidak tahu berterima kasih dengan keberadaannya ‘disini dan kini’. Bertumbuhnya pola hidup konsumtif menggiring setiap orang dengan berbagai keinginan ‘permintaan’, tetapi daya kreatifitas semakin menurun. Setiap saat mengalami perubahan minat akan sesuatu dan melirik hal yang baru. Gaya hidup konsumtif membudaya disegenap aspek kehidupan.

H.  Gaya Hidup Sekularisme
Setiap orang akan melihat segala sesuatu menurut kebutuhannya saat ini di sini dan kini. Persoalan dunia akhirat adalah terlalu muluk-muluk untuk dipikirkan dan hanya menjadi beban saja serta menghalangi niat untuk menikmati indahnya dunia. Segala bentuk interaksi dan tindakan manusia dilihat dan dinilai menurut tolok ukur dunia sekiarnya. Tidak heran bila pola hidup religius hanya sebatas seremonial belaka dan bahkan dialihfungsikan secara tidak sadar menjadi arena dimana nilai-nilai sekuler ditemukan dan dipertaruhkan.

Kondisi tersebut di atas adalah suatu realita hidup warga masyarakat dewasa ini di tengah dunia global dimana kecenderungan hati umat untuk memilih kenikmatan sesaat di sini dan kini tanpa memahami rencana Allah yang menghendaki umatNya beroleh kebahagiaan pada hari kemudian (Yeremia 29:11), dimana gereja berkarya menjawab panggilannya sebagai garam dan terang dunia.

Ini adalah tantangan tersendiri bagi gereja akan hakikatnya yang Esa, Kudus, Universal, dan Rasuli. Bagaimana gereja mendemonstrasikan misinya tanpa kehilangan jati diri yang telah dipercayakan oleh Raja Gereja, Yesus Kristus, untuk senantiasa eksis di tengah dunia yang terus berubah menuju perkembangannya yang sempurna. Bila gereja tidak setiap saat berbenah diri maka sangat dimungkinkan terjerat oleh daya pikat kemilau modernisasi dan globalisasi.

Tantangan gereja pada zaman ini dengan kemajuan modern adalah tumbuh-suburnya faham rasionalisme dan sekularisme. Manusia lebih mengandalkan ratio untuk kebutuhannya saat ini, sehingga agama dianggap sebagai suatu bentuk emosional yang tidak rasional. Dipahami bahwa dogma gereja adalah ciptaan manusia semata untuk memenuhi tuntutan emosi yang tidak rasional. Ilmu teologi cenderung dialihkan menjadi ilmu sains.

Nilai sekuler yang tumbuh subur menarik minat setiap orang untuk memahami bahwa kadar iman seseorang berbanding lurus dengan kemakmuran yang diperolehnya. Bias pemahaman ini menghantar setiap orang dalam motivasi kemakmuran perlu dibina hubungan dengan Tuhan yang bisa membangun dan atau menjembatani melalui agama, ibadah religius. Maka jiwa religius seperti ini mudah tergoda iming-iming.

Seseorang menganut kepercayaan untuk menemukan tujuannya, bukan ia percaya dan hidup demi tujuan yang dipercayanya (Allah yang disembah). Hal ini membentuk alam berpikir seseorang bahwa agama adalah media guna memenuhi hasratnya. Dimana hasratnya bisa dipenuhi, maka disana agama telah berfungsi. Hal ini merupakan produk glamor dan hedonisme yang menawarkan jasa dengan kemampuan dapat memenuhi selera. Pada akhirnya gereja akan diperhadapkan dalam berprakarsa untuk memenuhi selera umatNya atau untuk menjalankan amanah Tuhan.

Dengan efek globalisasi hal ini dengan cepat merambat hingga ke pelosok sekalipun, terlebih jasa layanan tontonan setiap hari yang membangun imajinasi bahwa kemewahan dan rupa-rupa kenikmatan adalah sesuatu yang harus diperperjuangkan untuk memperolehnya sekaligus menjadi tolok ukur ‘hidup mapan’ yang dikemas dengan nilai religius “orang takut akan Tuhan pasti diberkati”. Orang hidup makmur berarti telah diberkati, kalau diberkati itu artinya dia dekat dengan Tuhan.

Di tengah tantangan inilah gereja ditinggalkan dan dengan keadaan ini gereja diutus oleh Raja Gereja. Kita perlu menyadari sedini mungkin tantangan dalam dunia sekitar kita. Hanya dengan menyadari tantangan beserta akibat yang ditimbulkannya, maka kita dapat berbenah dan tidak terjerembab di dalamnya. Semoga dengan tulisan ini yang jauh dari sempurna dapat memperkaya dan memahami tanggung jawab kita dalam medan pelayanan.
Tuhan Yesus memberkati.
Selengkapnya...