Kita terpanggil menjadi pendoa. Haleluya
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

Rabu, 28 Mei 2014

NAIK ke RUMAH BAPA

Oleh: Rev DR MH Siburian, M.Min

“…BAHWA  SEKARANG AKU AKAN PERGI KE RUMAH BAPA-KU DAN BAPA-MU, KEPADA ALLAH-KU DAN ALLAH-MU…” (YOHANNES 20: 17b).

                Alkitab mencatat beberapa kejadian “kenaikan “ ke angkasa diantara kurun waktu yang sangat panjang. Tersebutlah Henokh orang “ yang bergaul dengan Allah selama beratus-ratus tahun” tiba-tiba diangkat oleh Allah, proses pengangkatan ini tidak dijelaskan secara mendetail (Kej 5:24), Henokh diangkat oleh Allah tanpa melalui proses kematian lebih dahulu.
Selengkapnya...

Minggu, 25 Mei 2014

GPI Batu Aji Lama Rayakan Paskah dengan Pengobatan Gratis

Minggu 27 April 2014 Ibadah Minggu dalam  Perayaan Paskah, Anak Sekolah Minggu
Dan Pengobatan Sosial Bersama Team dari Gereja Methodist s,pore  di Laksanakan
Di GPI Batu Aji Lama-Kota Batam Pelayanan Pdt B. Fresly Sihombing S.Miss.
Selengkapnya...

Rabu, 05 Maret 2014

Pdt BF Sihombing (GPI) Kembali Pimpin PGPI Kepri


BERITA MUSPROV PGPI – KEPRI KE II, 28 FEBRUARI 2014

Musyawarah ke II persekutuan Gereja-Gereja Indonesia (PGPI) Kepulauan Riau diadakan pada hari Selasa, 28 Janari 2014, denagn mengambil tempat di GGI Hotel Jl. Duyung Sei Jodoh Batam. Acara dimulai dari pagi sampai malam yang diakhiri dengan Kebaktian Kebangunan Rohani (KKR) dengan pembicara tunggal Pdt. DR. Jacob Nahuaway, MA, Ketua Umum PGPI. Acara dimulai pukul 08.00-21.00 diadakan seminar dengan judul “ Gereja Dalam Wawasan Kebangsaan” dengan pembicara tunggal Pdt. DR. Jacob Nahuaway, MA.
Selengkapnya...

Kamis, 20 Februari 2014

Indonesia Menangis


Oleh: Dewi Sandra Maria, Sidang Tirtosari-Meda
(Juara I Kontes Menulis Puisi Gen Muda GPI Tingkat Nasional Tahun 2013)

Indonesia menangis
Indonesia bersedih
Entah sampai kapan indonesia ku
akan tetap menangis ?
Dan entah sampai kapan..

senyum itu akan datang ?
Yang aku tahu tangisan ini.
membuat ku terbangun dari mimpi ku
Dan yang tahu juga Bahwa indonesi.
tak pernah tersenyum 
Selengkapnya...

Minggu, 13 Oktober 2013

Pemuda Pentakosta Pemuda Penjaga Api Pentakosta

Oleh: Biston Presley Siregar
Pemuda GPI Sidang Patuan Anggi-Pematang Siantar
JUARA-I Kategori ARTIKEL Pada Kontes Menulis Gen Muda GPI Tingkat Nasional Tahun 2013

Pemuda.... atau yang secara gaul nya dibilang Youth. Ketika kita mendengar hal ini, yang terbersit dibenak kita adalah gambaran sebuah usia dimana tergambar rentang usia diatas 15 tahun dan dibawah 30 tahun. Menurut kamus Besar Bahasa Indonesia pemuda didefenisikan sebagai orang muda, orang yang masih muda – harapan bangsa. Masih banyak defenisi pemuda yang tidak mungkin kami tuliskan seluruhnya di dalam artikel ini, namun secara garis besarnya pemuda adalah rentang usia ataupun peralihan usia dari anak-anak(childhood) ke fase dewasa(maturity).
Selengkapnya...

Rabu, 02 Oktober 2013

Peran Pemuda GPI dalam membangun Church Social Responsibility**

**Tanggung Jawab Sosial Gereja

Oleh: Kiki Febriani Rumahorbo
Mahasiswa Jurusan Public Relation Fakultas FISIP – Universitas Lampung
GPI Sidang Tanjung Senang – Bandar Lampung

Bila kita mendengar singkatan CSR mungkin kita akan langsung teringat pada program sosial yang ada pada banyak perusahaan yang lebih sering kita kenal dengan istilah Corporate Social Responsibility (CSR). CSR merupakan komitmen sebuah perusahaan dalam memberikan kontribusi positif dan langsung bagi masyarakat di sekitarnya. Lalu bagaimana pemuda GPI menyikapi program  sosial yang ada padahal elemen-elemen sekuler dalam masyarakat saja sudah terbeban terhadap masalah sosial.
Selengkapnya...

Kamis, 26 September 2013

The Last Man Standing...

Oleh:  Eunike Olivia Ambarita

Juara - III Kategori Artikel
Sidang: Tangerang
Pekerjaan: Mahasiswi Universitas Multimedia Nusantara
Umur: 19 Tahun

Salam Pentakosta!!!
Dalam artikel ini saya akan membahas tentang “The Last Man Standing”. Tahukah Anda apa makna kalimat tersebut?
Selengkapnya...

Senin, 23 September 2013

Mempertahankan Ciri Gereja Pentakosta Indonesia

Oleh:  Harmoko Sinaga, S.P
Sidang Pangurusan Samosir

Ketua Biro Pemuda GPI Wilayah Samosir Sekitarnya
Pekerjaan:  Manager Radio Green Samosir
(Juara Harapan-I Kategori Artikel)

Berbicara mengenai mempertahankan adalah bagian kata-kata yang susah untuk dilakukan, akan tetapi hal ini sangat esensial untuk dilakukan karena merujuk pada tanda atau ciri yang harus benar-benar dipertahankan agar tidak kehilangan jejak dan tidak hilang ciri yang menunjukkan sisi gereja Tuhan yang sudah lama dibentuk. Kata “mempertahankan” diarahkan pada generasi muda atau yang disebut GEN MUDA GPI seperti yang disebut dalam kontes ini.
Selengkapnya...

Minggu, 22 September 2013

HUBUNGAN TUGAS GEREJA YANG HOLISTIK DENGAN PERAN PEMUDA DALAM GEREJA

          Oleh:  Daido Tri Sampurno, M.Th
          (Juara Harapan-II Kategori Artikel pada Kontes Menulis Gen Muda GPI Tingkat Nasional Tahun 2013)
          A. Pendahuluan

Pemuda dan gereja adalah sesuatu yang berbeda tetapi memiliki kaitan yang sangat erat dan saling mempengaruhi satu dengan yang lain. Gereja adalah sebuah wadah yang mendidik dan menuntun pemuda kepada tatanan hidup yang benar, dan pemuda adalah generasi penerus yang akan meneruskan perjuangan gereja di masa-masa yang akan datang. Pemuda selayaknya dan seharusnya memiliki hubungan yang sangat erat dengan gereja. Apa yang dilakukan oleh gereja, harus apa yang dilakukan oleh pemuda hendaknya saling mencerminkan dan saling mendukung. Pendidikan dan tuntunan yang diberikan gereja pada pemuda sangat mempengaruhi seperti apa gereja
di masa yang akan datang, yang menjadi pertanyaannya adalah apakah peran pemuda hanya sebatas menjadi objek didik gereja atau adakah hal yang lain, yang dapat dilakukan pemuda untuk pertumbuhan gereja, hal ini menyangkut peran pemuda terhadap gereja ? untuk menjawab pertanyaan ini penulis merasa perlu untuk membahas tugas gereja yang holistik, yaitu amanat agung yang tercatat dalam injil Matius : 
Selengkapnya...

Rabu, 29 Mei 2013

KKR Kesembuhan Ilahi

Puji Tuhan...

Doakan, Hadiri dan Ajak teman-teman, keluarga dan tetangga:

Kebaktian Kebangunan Rohani dan Kesembuhan Ilahi bersama hamba-Nya:

Rev. DR. M.H. Siburian, M.Min (Pendeta Umum Gereja Pentakosta Indonesia)

Yang akan diselenggarakan pada Jumat dan Sabtu, 31 Mei dan 01 Juni 2013.
Bertempat di:  Gedung Rajawali Jl Asahan Pematang Siantar.

Bawalah orang-orang sakit dan berbeban berat.  Tuhan akan menyembuhkan dan memulihkan.

Dilanjutkan Ibadah MInggu raya dan Pemberkatan anak-anak Hari Minggu 02 Juni 2013.

Tuhan Yesus Memberkati..

HALELUYA!!!!!
Selengkapnya...

Minggu, 12 Mei 2013

=>5 (Lima) Dosa si Tukang Terlambat..

Oleh: Admin
Terlambat..., kelihatannya bak virus yang sedang menyerang anak-anak Tuhan, baik pemuda, kaum bapak dan tidak terhindar juga kaum ibu. Repotnya virus ini juga cukup bertaji menyerang para pelayan-pelayan yang sudah dipersiapkan melayani. Sehingga tak jarang ditemukan persoalan-persoalan akibat kebiasaan terlambat ini.

Misalnya waktu ibadah yang terpaksa diundur, waktu latihan dan rapat yang terpaksa diundur, kekosongan satu, dua pos pelayanan saat ibadah sudah dimulai dll. Tapi sebenarnya bila ditelisik lebih jauh, ada beberapa akibat fatal yang dilahirkan oleh budaya terlambat ini. Dan inilah lima daftar "dosa" orang-orang yang suka terlambat datang beribadah:
Selengkapnya...

Rabu, 10 April 2013

Tell It Now..

Mari sama-sama katakan dengan iman:





HALELUYA
Selengkapnya...

Senin, 08 April 2013

ELI, ELI, LAMA SABAKHTANI


Itulah seruan Yesus di kayu salib beberapa saat menjelang kematian-Nya, arti seruan itu adalah : ”Allah-Ku, Allah-Ku, mengapa Engkau meninggalkan Aku”(Matius 27:46 b). Rasanya seruan itu menggambarkan satu perjuangan menghadapi maut dalam kesendirian. Sorga diam dan tidak bereaksi ketika kematian itu masuk kedalam “makluk kekal” yang rela menjadi manusia yang “fana”. Dengan demikian kematian nampaknya berhasil menunjukkan “Super Powernya”. Sebelum akhirnya dikalahkan dengan kebangkitan Yesus.
Selengkapnya...

Rabu, 27 Maret 2013

Hanya Dia yang layak...

=> Alam sampai bergetar, Matahari sampai "malu" bersinar...., Tidak tega menyaksikan pencipta-Nya "terkutuk" dikayu salib untuk menanggung hukuman yang bukan disebabkan kesalahan-Nya...

Lukas 23:44-45  "...Ketika itu hari sudah kira-kira jam dua belas, lalu kegelapan meliputi seluruh daerah itu sampai jam tiga, sebab matahari tidak bersinar..."

Selamat Paskah bagi segenap Umat Gereja Pentakosta Indonesia dimanapun berada.  Darah dan penderitan-Nya menarik kita dari "sampah" dan menjadi berharga di mata-Nya.

HALELUYA!!!!
Selengkapnya...

Minggu, 16 September 2012

Belajar dari Kepemimpinan NEHEMIA

  Oleh: Bpk Gr Ramsis Nadeak, S.PSi. GPI Sidang Tangerang-Banten

  1.Nehemia adalah salah seorang pemimpin yang sangat menginsipirasikan dalam Alkitab.
  2. Terkadang metode-metodenya kelihatan tidak masuk akal, namun metode-metode tersebut digunakan oleh Tuhan untuk menghasilkan reformasi dalam kehidupan bangsa Israel dalam waktu yang singkat.
Selengkapnya...

Kamis, 06 September 2012

DASAR-DASAR PELAYANAN & Karakter Hamba Tuhan

Oleh: Bpk Pdt Tehe Harefa, M.Th. M.A
(pada Seminar dan Pelatihan Pengerja GPI Wilayah Nias Tahun 2012) 

1. Renungan singkat: 
Panggilan kepada seorang Pelayan Tuhan (Yesaya 6)
Memandang kepada TUHAN, lalu mengaku dosa (ayat 1-5)
Pengakuan dosa diiringi dengan penyucian dari dosa (ayat 5-7)
Panggilan Allah diikuti dengan Penyerahan diri (ayat 8)
Perintah untuk melayani disertai dengan Persekutuan dengan Allah (ayat 9-11)
Selengkapnya...

Kamis, 30 Agustus 2012

Siapa penulis kitab Ibrani????

Oleh:  Gr Sahala Napitupulu. GPI Ujung Aspal-Jakarta

Telah lama saya dibikin penasaran campur takjub ketika membaca Kitab Perjanjian Baru secara serius, khususnya Surat Ibrani. Penasaran, karena dari semua kitab dalam Perjanjian Baru, selain Kisah Para Rasul, hanya Surat Ibrani inilah yang tidak mencantumkan si penulis surat. Sedangkan Surat-surat yang lain ada menuliskan nama si penulisnya. Tetapi justru karena tidak ada nama si penulis surat itulah , maka bagiku ia menjadi semacam misteri dan mengundang rasa penasaran.

Telah lama saya mendengar para hamba Tuhan atau para pengkotbah menyebut nama Paulus sebagai si penulis Surat Ibrani. Beberapa hamba Tuhan dalam kotbahnya sering berkata kepada jemaat : “ Mari kita membuka Surat Paulus dalam Surat Ibrani fasal sekian ayat sekian…”.Termasuk saya pun pernah berkata demikian, dahulu tentunya. Tapi tidak lagi sekarang. Alasan sederhananya, karena Alkitabnya sendiri tidak menyebutkan nama Si Penulis, mengapa saya berani mendahulukan atau memastikan nama si penulisnya ? 

Dunia kepenulisan, dunia jurnalistik, adalah bagian dari pekerjaan saya sehari-hari. Dalam era sekarang bagi yang terbiasa dalam penulisan artikel, feature, laporan ilmiah atau apapun namanya, maka nama si penulis wajib dicantunkam dalam karyanya. Tentunya ini menyangkut pertanggung jawaban isi tulisan maupun hak cipta dari karya tulisan tersebut. Namun, saya pun tahu dalam banyak kasus, banyak penulis di dunia ini tidak ingin namanya diketahui publik, maka pilihannya si penulis menggunakan nama pena atau nama samaran. Tetapi sekali lagi, tak ada nama pena kita temukan dalam Surat Ibrani.

Mungkin tidak berlebihan bila saya menyebut Surat Ibrani adalah the epistle of mystery alias Surat Misterius. Namun, di balik misteri tersebut, saya kira tak ada surat yang paling berpengaruh kepada manusia selama berabad-abad hingga hari ini, seperti Surat Ibrani. Banyak jiwa-jiwa telah diselamatkan karena menemukan pribadi Yesus melalui Surat Ibrani ini. Banyak jiwa-jiwa memperoleh pencerahan ketika membaca surat ini.

Sungguh, banyak mutiara indah kita temukan dalam Surat Ibrani, baik dilihat dari gaya bahasa penulisannya, apalagi isi tulisannya.  Surat ini memiliki kekhasan tersendiri bila dibanding dengan surat-surat lainnya. Tetapi pertanyaannya : siapakah dia sipenulis surat itu ? Dan mengapa ia tidak mencantumkan namanya sebagai si penulis Surat Ibrani ? Maka demi untuk menjawab rasa penasaran saya, sedikit upaya kemudian saya lakukan untuk mencari jawab, siapakah si penulis surat yg luar biasa ini ? 

Melihat dari gaya bahasa tulisannya memang surat ini jauh berbeda dari surat-surat lainnya. Tak ada introduction atau semacam pengantar didalamnya, seperti kita temukan dalam surat-surat lainnya. Surat Ibrani dibuka langsung ke pokok pembahasan. Sehingga ada penafsir Alkitab berkata bahwa Surat Ibrani ini bukanlah surat biasa, melainkan Sebuah sermon atau kotbah dalam bentuk tertulis ! Boleh jadi benar tapi mungkin juga tidak.

Menurut tradisi yang cukup tua, konon surat ini dikenal sebagai surat yang dialamatkan atau ditujukan kepada pembacanya “ orang-orang Ibrani “. Namun, alamat tersebut tidaklah dicantumkan dalam surat aslinya, melainkan sesuatu yang ditambahkan dikemudian hari oleh sipenyalin Surat Ibrani. Perlu diketahui bahwa Alkitab yang kita miliki sekarang yang terdiri dari 66 kitab, adalah merupakan hasil penyalinan ulang ribuan tahun lalu dan sumber penerjemahannya dari Bahasa Ibrani untuk Perjanjian Lama dan Bahasa Yunani untuk Perjanjian Baru.

Tidak ada nama si penulis surat, memang demikianlah adanya. Namun, bila kita membaca surat ini, tak diragukan bahwa si penulis surat pastilah seorang terpelajar. Ia menguasai bahasa Yunani  tetapi sangat fasih tentang hukum-hukum Taurat dalam Perjanjian Lama. Banyak kutipan ayat-ayat dari Perjanjian Lama kita temukan. Itu sebabnya, banyak penafsir Alkitab berkata bahwa Surat Ibrani tidak akan dapat difahami bila pembacanya tidak memiliki pengetahuan akan Perjanjian Lama.

Tema utama Surat Ibrani ini ialah : Kristus Yesus Adalah Jalan Keselamatan yang Baru dan yang Hidup (Ibrani   10 : 20). Dan melalui Surat Ibrani inilah kita menemukan definisi iman sedemikian indahnya, bahwa Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11 : 1 ). 

Ada banyak penggunaan bahasa Superlatif didalam Surat Ibrani seperti kata : Lebih Baik, Lebih Tinggi, Lebih Utama atau Lebih Unggul. Kata Superlatif itu sekurang-kurang terdapat 12 kali kita temukan didalam suratnya. Perhatikanlah : Anak Allah Lebih Tinggi daripada Malaikat-Malaikat, Yesus seketika Lebih Rendah daripada Malaikat-Malaikat, Yesus Lebih Tinggi dari Musa, Kristus adalah Imam yang Lebih Tinggi daripada Harun dan seterusnya.

Melalui Surat Ibrani inilah si penulis surat menjelaskan kepada pembacanya mengapa ke imaman Yesus lebih tinggi daripada keimaman Harun. Sebab keimaman Yesus adalah representasi dari keimaman Melkisedek yang tidak berbapak, tidak beribu, tidak bersilsilah, harinya tidak berawal dan hidupnya tidak berkesudahan ! Sehingga berdasar surat Ibrani inilah,  maka kita bisa berkata bahwa Yesus dahulu kala pernah hadir dalam era Perjanjian Lama dan Ia pernah menerima perpuluhan dari Abraham. Kehadiran Yesus itu tentu dalam pribadi Melkisedekh.


Antara Paulus dan Apolos


Selain si penulis surat ini memiliki kecakapan dalam menulis, menguasai bahasa Yunani dan fasih tentang hukum-hukum Taurat, ada satu hal lagi yg bisa kita pastikan, yaitu si penulis surat ini bukan berasal dari generasi pertama murid Yesus. Artinya, si penulis surat Ibrani bukanlah salah satu dari ke 12 murid Yesus yang pertama. Dalam suratnya ini menunjukkan bahwa dia mengenal para rasul atau murid-murid Yesus generasi pertama. Bahkan dia pun mengenal secara baik Timoteus. Perhatikanlah dalam penutup suratnya : “ Ketahuilah, bahwa Timoteus, saudara kita, telah berangkat. Segera sesudah ia datang, aku akan mengunjungi kamu bersama-sama dengan dia “ ( Ibrani 13 : 23 ).

Dalam tradisi gereja mula-mula, hingga abad 19, gereja masih sering mengajarkan bahwa Paulus lah si penulis Surat Ibrani. Namun, dikemudian hari penyebutan nama Paulus sebagai si penulis Surat Ibrani tidak lagi diajarkan. Artinya, karena ada perdebatan dan beberapa hal yang meragukan didalamnya. Mari kita lihat mengapa sangat diragukan Paulus sebagai si penulis Surat Ibrani :

Pertama, biasanya Paulus dalam surat-suratnya menyebutkan namanya. Lihat surat Roma, surat Korintus, surat Galatia, surat Efesus dan lain-lain. Sehingga kalau benar Paulus si penulis Surat Ibrani, maka surat ini akan menjadi satu-satunya pengecualian.

Kedua, Paulus sendiri begitu yakin bahwa dia menerima Injil langsung dari Yesus Kristus. Dalam suratnya kepada jemaat di Galatia Paulus menuliskan : “ Sebab aku menegaskan kepadamu, saudara-saudaraku, bahwa Injil yg kuberitakan itu bukanlah Injil manusia. Karena aku bukan menerimanya dari manusia, dan bukan manusia yang mengajarkannya kepadaku, tetapi aku menerimanya oleh pernyataan Yesus Kristus “ (Galatia 1 : 11-12). Hal ini bertentangan dengan kesaksian si penulis Surat Ibrani. Dalam suratnya itu si penulis jelas menunjukkan bahwa ia mengetahui Injil dari pengajaran orang lain, bukan langsung dari Yesus Kristus ( Ibrani 2 : 1- 3 ).

Ketiga, bahasa penutup yang terdapat didalam Surat Ibrani sedemikian berbedanya dengan  surat-surat paulus. Dalam setiap surat Paulus, gaya khas penulisan Paulus selalu ditutup dengan  “ Salam kepada …”, Paulus selalu menyebut nama-nama mereka. Tetapi ini tidak kita temukan dalam Surat Ibrani. Salam yang disampaikan dalam Surat Ibrani ditujukan kepada pemimpin dan semua orang kudus dan saudara-saudara di Italia, tanpa penyebutan nama ( Ibrani 13: 24 )

Bila ke-3 point diatas cukup untuk dijadikan alasan meragukan Paulus sebagai si penulis Surat Ibrani, lalu siapa ? Banyak penafsir Alkitab kemudian mengacu kepada Apolos sebagai si penulis Surat Ibrani. Martin Luther, antara lain yang menganggap Apolos lah si penulis Surat Ibrani. Salah satu alasannya, Apolos disebutkan orang yang mahir dalam soal-soal kitab suci. Dia seorang Yahudi yang berasal dari Aleksandria ( Kis.18 : 24-28 ). Apolos pun mengenal murid-murid Yesus generasi pertama, mengenal Paulus dan Timoteus. Tetapi sayangnya, karena tidak ada Surat Apolos sebelumnya didalam Alkitab kita, maka  kita tidak memiliki perbandingan baik untuk melihat gaya bahasa kepenulisannya, kesaksian mengenai dirinya maupun pelayanannya.

Diluar Paulus dan Apolos, banyak pula yang menduga si penulis surat adalah Barnabas teman seperjalanan Paulus. Barnabas berasal dari jemaat Antiokhia. Ia termasuk dalam kalangan yang disebut nabi dan pengajar (Kis.13 : 1). Banyak pula yang menduga tabib Lukas lah penulisnya, termasuk dialah si penulis kitab Kisah Para Rasul. Namun, ada pula yang menduga Surat Ibrani ditulis oleh Klement dari Roma dan ada pula yang menyebut Priskila dan Akwila dari Asia Kecil.

Tetapi semuanya hanya dugaan. Kesimpulannya, saya meragukan untuk menyebut Paulus atau Apolos dan lain-lainnya sebagai si penulis Surat Ibrani. Tak ada kepastian. Bila tak ada kepastian, maka seperti kata Origenes : “ Hanya Allah yang mengetahui siapa penulis Surat Ibrani secara pasti. “


Salam Pentakosta.


N.B : Bagi saudara yang ingin mendalami lebih jauh tentang Surat Ibrani, ada banyak sumber bacaan yg bisa ditelusuri melalui internet, diantaranya bisa dibaca di :

1.     Who wrote the Book of Hebrews ? Who was the author of Hebrews ? lihat di http :// www.gotquestion.org/author-Hebrews.html

2.     The Epistle To Hebrews, by felix just, S.J, Ph.D,

      Lihat di http ://catholic-resources.org/Bible/Epistles-Hebrews.html

3.     The Letter To Hebrew

Lihat di http : //abu.nb.ca/courses/ntintro/Heb.html

4.     New Advent,

     Lihat di http :// www.newadvent.org/cathen/07181a.html

 Dan dalam bentuk buku, saya menyarankan untuk membaca Introduksi Perjanjian Baru, karya Rev.Ola Tulluan, Ph.D, terbitan Yayasan Persekutuan Pekabaran Injil Indonesia, 1999, pada Bab Surat Ibrani
Selengkapnya...

Senin, 13 Agustus 2012

KHOTBAH LEBIH DARI SEBUAH CERITA

Oleh:  Bpk Pdt Tehe Harefa, M.A, Koordinator Pembantu Umum GPI Wilayah Nias
(Seminar dan Pelatihan Pengerja GPI Wilayah Nias Tahun 2012)
  1. A.   Pendahuluan
Pemahaman adalah sesuatu yang lebih dari sekedar pengertian intelektual. Pemahaman adalah pengetahuan yang meresapi seluruh pribadi sehingga yang dapat mengatakan ‘ya’ kepada pengetahuan tersebut. Pemahaman adalah pengetahuan yang meresapi kehidupan manusia itu dari kepala sampai ke ujung kukunya dan dari otak sampai ke hatinya. Jika seseorang dapat sampai kepada pengetahuan yang menembus secara menyeluruh ia akan dapat sungguh-sungguh mendengarkan Sabda Allah dan tunduk pada terang yang memasuki kehidupannya yang gelap. Dengan demikian, salah satu tujuan daripada khotbah yang paling penting adalah menyingkirkan hambatan-hambatan yang sangat nyata dan terlalu jelas yang menyebabkan orang mendengar tanpa pengertian.

Khotbah adalah salah satu tugas utama dalam pelayanan kekristenan. Ahli sejarah, ahli Teologi Sistematika, dan khususnya ahli Kitab Suci semuanya dapat memberikan sumbangan yang berharga untuk mengetahui lebih baik tugas pelayanan yang penting ini. Namun kiranya terlalu berani untuk mencoba menggarap berbagai segi masalah khotbah. Oleh karena itu kita harus membatasi diri pada satu pertanyaan saja: “Siapakah yang dapat menyingkirkan rintangan-rintangan yang menghalangi Sabda Allah jatuh pada tanah yang subur?”

Pertanyaan ini sesungguhnya adalah pertanyaan yang berhubungan dengan spritualitas pengkhotbah. Namun sebelum kita mendekati masalah itu secara nyata, pertama-tama kita harus melihat dua kesulitan utama dalam khotbah, yaitu: kesulitan berhubungan dengan pesan dan kesulitan yang berhubungan dengan pembawa pesan.

  1. B.   Kesulitan yang Berhubungan dengan Pesan
Untuk dapat meneruskan pesan apapun kepada orang lain, setidak-tidaknya harus ada kesediaan untuk menerima pesan tersebut. Kesediaan ini berhubungan dengan adanya keinginan untuk mendengar, suatu pertanyaan yang menuntut jawaban atau pesan umum yang tidak pasti dan membutuhkan penjelasan untuk dimengerti. Akan tetapi jika sebuha jawaban diberikan padahal tidak ada pertanyaan, dukungan ditawarkan tetapi tidak ada permintaan, maka satu-satunya akibat yang akan muncul adalah kejengkelan dan ketidakacuhan.
Tidak merupakan suatu rahasia lagi bahwa mereka yang memperhatikan sunguh-sungguh orang-orang di gereja, sering kali merasakan bahwa besarnya jumalh orang yang hadir berbanding terbalik dengan hasrat mereka untuk mendengar. Ada bebrapa hal yang menyebabkan terjadinya kejengkelan dan ketidakacuhan jemaat, yaitu sebagai berikut:
 
  1. Pesan yang berlebih-lebihan
Kalau kita mengatakan bahwa khotbah adalah mewartakan berita gembira/sukacita, penting untuk disadari bahwa bagi kebanyakan orang sama sekali tidak ada sesuatupun yang merupakan berita gembira dalam khotbah.

Pada kenyataannya tidak ada seorangpun mendengarkan khotbah dengan harapan untuk mendengar sesuatu yang belum pernah mereka dengar atau ketahui. Mereka telah mendengar tentang Yesus (muridNya, karyaNya, penyelamatanNya, dll) di rumah, di sekolah, sehingga hal terakhir yang mereka harapkan akan muncul dari mimbar bukanlah sesuatu hal yang baru.

Bila sebuah pesan sudah menjadi terlalu berlebih-lebihan dan sama sekali kehilangan kekuatan untuk menggugah tanggapan yang kreatif, maka pesan itu tidak dapat disebut lagi sebagai pesan. Dan kalau Anda merasa tidak dapat menghindarkan diri dari keharusan hadir secara jasmani waktu pesan itu disampaikan setidak-tidaknya Anda dapat menutup mata dan tidak mau melibatkan diri lagi.

  1. Pesan yang menakutkan
Berlebih-lebihannya pesan hanyalah satu segi pesan yang menghalangi seseorang untuk mendengar. Dan meskipun mungkin benar mengatakan bahwa bagi kebanyakan orang khotbah hampir tidak memberikan sesuatu yang baru, namun pesan inti dari Injil tetap mengandung kebenaran yang belum seutuhnya dinyatakan oleh siapapun. Dan mendengarkan dengan baik tidak lain dari kesediaan yang terus menerus mengakui bahwa kita masih belum mewujudkan apa yang kita percayai. Siapa yang senang mendengar, misalnya bahwa yang terakhir akan menjadi yang pertama, jika dia adalah orang yang pertama. 

Dan siapakah yang ingin mendengar bahwa mereka yang miskin, sedih, lapar, haus dan dianiaya disebut berbahagia, kalau dia adalah seorang yang kaya, puas dengan dirinya sendiri, terjamin, dipuji karena keberhasilannya dan dikagumi oleh teman-temannya? Siapa yang mau mendengar bahwa orang harus mengasihi usuh-musuhnya dan berdoa bagi mereka yang menganiayanya kalau dia menyebut pimpianannya bajingan, memaki anaknya sendiri sebagai bangsat, dan merasa bangga jika mendengar bahwa anak buahnya telah mencincang ratusan orang musuh-musuhnya? Mungkin pesan akan selalu sama selama hidup dan mungkin pula akan diulang kembali dalam berbagai cara dan ungkapan, akan tetapi orang sungguh-sungguh membiarkan pesan itu meresap masuk ke dalam diri, pada saat itu juga membuka kemungkinan bagi dirinya untuk sampai ke pemahaman yang mungkin membawa akibat bagi gaya hidupnya yang tidak diinginkannya. 

Bagaimanapun kebenaran adalah radikal, kebenaran itu menembus ke akar hidup manusia sedemikian rupa sehingga sedikit saja yang menginginkan kebenaran itu sendiri dan kebebasan yang dibawanya serta. Kenyataannya ada ketakutan yang langsung dirasakan untuk berhadapan dengan kebenaran dalam kesahajaan dan kesederhanaannya, sehingga rupanya jengkel dan marah merupakan reaksi yang lebih umum daripada pengakuan sederhana bahwa seseorang termasuk dalam kelompok yang dikecam oleh Yesus.
Berlebih-lebihannya pesan dan ketakukan akan kebenaran rupanya merupakan dua alasan utama mengapa seseorang pengkhotbah menghadapi kesulitan besar untuk dapat sampai kepada pendengarnya. Lebih lagi kalau mereka yang hadir merasa tidak bebas untuk pergi ke luar. Masih banyak yang merasa terikat oleh kekuasaan tertentu, yang telah membuat mereka yakin bahwa kalau mereka tidak bersedia berkorban satu jam dalam seminggu, kelak mereka akan menderita jauh lebih berat kalau hari-hari mereka telah berlalu. Sebagai akibatnya, seorang pengkhotbah sekali lagi berhadapan dengan sebuah tugas yang berat: “Mewartakan berita gembira/sukacita, yang bagi banyak orang tidak lagi merupakan suatu berita yang menggembirakan”.
Sebelum kita bertanya orang yang bagaimana yang akan menembus rintangan yang mengakar dalam dan yang menghalangi sampainya pesan, kita harus jujur untuk mengakui bahwa bukan hanya pesan saja melainkan juga pembawa pesan sendiri sering kali menjauhkan orang dari pemahaman yang menyakitkan namun membebaskan. Maka sekarang marilah kita telaah masalah pembawa pesan.

  1. C.   Kesulitan yang Berhubungan dengan Pembawa Pesan
Banyak pengkhotbah cenderung bukannya memperlemah melainkan memperkuat rintangan yang membuat orang tidak mau mendengarkan, dengan cara yang dipakainya untuk menyampaikan pesan abadi itu. Penyelidikan yang teliti terhadap khotbah-khotbah akan menunjukkan kalau nabi Yesaya memang benar, waktu mengatakan: “engkau akan mendengar tetapi tidak mengerti, melihat dan tidak memahami” (Yesaya 6:9-10), maka pasti banyak pengkhotbah tidak membantu untuk mengecualikan orang dari nubuat ini. Maka kiranya perlu melihat lebih teliti beberapa cara khotbah yang dapat membuat kita mengerti lebih baik masalah yang berhubungan dengan Pembawa Pesan. Dalam hal ini saya berpikir bahwa dua alasan utama mengapa seseorang pengkhotbah sering kali menumbuhkan sikap melawan, bukannya simpati adalah: (1) perasaan-perasaan yang sebetulnya tidak ada akan tetapi diandaikan begitu saja; dan (2) terlalu memikirkan pandangan teologis.

  1. 1.    Perasaan-perasaan yang Sebetulnya tidak ada
Banyak khotbah dimulai dengan membuat pengandaian yang tidak diuji terlebih dahulu. Banyak pengkhotbah begitu saja memaksakan perasaan, gagasan, pernyataan dan masalah kepada pendengar khotbah. Sedang semuanya itu sering kali tidak diketahui oleh sebagian besar dari mereka, kalau tidak oleh semua. Beberapa pengkhotbah mengajar jemaat bertanya kepada diri mereka sendiri mengapa pada hari Pentakosta pakaian liturgi berwarna merah, mengapa hari Minggu terakhir dari tahun liturgi tidak jatuh pada akhir bulan Desember, mengapa puasa berlangsung selama 40 hari, mengapa semua arwah semua orang beriman diperingati sesudah hari raya semua orang kudus. Pertanyaan-pertanyaan yang bagi umat tidak penting tidak perlu disampaikan kepada jemaat secara umum. Sering kali khotbah dibangun atas dasar perasaan-perasaan klerikal yang sering kali asing bagi awam. Saya ingat sebuah khotbah yang dimulai demikian:
Hari ini kita semua berkumpul untuk merayakan Kenaikan Tuhan Yesus Kristus. Baru beberapa minggu yang lalu hati kita dipenuhi kegembiraan karena kebangkitan Tuhan kita, dan sekarang bersama-sama dengan para Rasul kita merasakan kesedihan karena Yesus meninggalkan kita lagi. Akan tetapi kita tidak perlu putus asa karena Yesus tidak meninggalkan kita sendirian melainkan akan mengutus Roh Kudus kepada kita yang percaya kepadaNya. Dan bukan hanya kepada para Rasul akan tetapi juga bagi umat yang berkumpul disekeliling altar. Roh Kudus itu akan membawa kehidupan dan harapan baru.

Tidak mengherankan bahwa semua orang melamunkan ketika pengkhotbah selesai dengan pendahuluannya. Saya menghitung kira-kira ada tiga puluh orang tersebar di gereja yang besar dan hampir kosong itu. Rupanya tidak seorang pun ingat bagaimana dia merasa bergembira pada hari Paskah atau merasa susah pada hari Kenaikan Yesus. Tidak ada umat, tidak ada perayaan, tidak ada kesatuan dan pasti tidak ada rasa putus asa atau harapan agar Roh Kudus segera datang. Yang ada ialah beberapa orang yang tidak saling berhubungan yang masih berpikir bahwa hari raya Kenaikan Yesus adalah hari wajib dan masih cukup setia untuk menghadiri kebaktiannya.
Lebih menjengkelkan dari hal di atas adalah para pengkhotbah yang seakan-akan mengetahui secara persis perasaan setiap orang. Contoh yang baik adalah pendahuluan khotbah ini:
Saudara-saudari yang terkasih dalam Kristus,
Pada zaman dimana kita telah hanyut dalam arus hidup ala Amerika yang selalu sibuk, dimana kita terpaksa menjadi korban waktu dan budak agenda, yang membuat kita lari dari rapat yang satu ke rapat yang lain, kita telah menjadi tuli terhadap suara Allah yang berbicara dalam keheningan dan menyatakan diri dalam ketenangan doa.

Tentu saja ini semua cukup memberikan gambaran mengenai pengkhotbah. Akan tetapi bagaimana dengan nenek-nenek yang melewatkan sebagian besar waktunya untuk mengisi teka-teki silang, bagaimana dengan anak-anak yang baru saja kembali dari lapangan sepak bola, dan guru mereka yang menggunakan malam minggu untuk membaca buku cerita/novel dan bagaimana dengan ibu-ibu yang menikmati senja dengan anak-anaknya di kebun binatang?
Mungkin seorang dari antara umat mengatakan ‘ya’ kepada pengkhotbah, akan tetapi kebanyakan akan merasa begitu jauh seperti halnya mereka begitu jauh dari gambaran hidup yang selalu dikejar-kejar kesibukan. Mungkin mereka tidak menyadari hal ini, akan tetapi dengan satu atau lain cara-dengan diam seribu bahasa agar aman atau menunjukkan sikap bermusuhan yang tajam- mereka akan menunjukkan bahwa sebenarnya mereka tidak sejalan dengan dia.

  1. 2.    Terlalu Memikirkan Pandangan Teologis
Masalah kedua yang lebih sulit untuk diatasi ialah sikap pengkhotbah yang terlalu memasalahkan teologi. Beberapa pengkhotbah begitu terpesona oleh buku baru yang dibaca atau suatu pandangan baru yang didengar sehingga mereka merasa bahwa orang lain harus ikut merasakan kekagumannya. Alasan utama bukannya bahwa gagasan teologi mereka tidak benar atau tidak berarti, melainkan bahwa bukan hanya pengkhotbah akan tetapi pendengar juga mempunyai teologi mereka sendiri-sendiri. Saya akan menjelaskan hal ini dengan sebuah cerita.

Seorang mahasiswa teologi diminta untuk berkhotbah tentang Kerajaan Allah. Dia mempelajari Kitab Suci dengan teliti dan membaca karangan terakhir mengenai hal tersebut. Tetapi ketika dia merasa sudah mempunyai gambaran yang jelas mengenai Kerajaan Allah dan siap membawakan khotbahnya, diusulkan kepadanya untuk lebih dahulu mengunjungi tiga keluarga dimana dia akan berkhotbah dan bertanya kepada mereka apa yang mereka pikirkan tentang Kerajaan Allah.
  • Pertama-tama dia mengunjungi seorang ahli Meteorologi, seorang cendekiawan yang telah membaca banyak buku dalam hidupnya cukup rumit. Dan ahli Meteorologi itu berkata: “Kerajaan Allah adalah pemenuhan janji-janji Allah, dan manusia harus menjauhkan diri dari rasa ingin tahu mengenai bagaimana hal itu persis akan terjadi”.
  • Lalu mahasiswa itu menemui pemilik toko yang baru saja bangkrut dan istrinya sudah bertahun-tahun sakit. Pemilik toko itu berkata: “Kerajaan Allah adalah sorga dimana akhirnya saya akan menerima pahala karena saya bertahan hidup dalam kondisi berat dan susah ini”.
  • Dari sana ia pergi ke rumah seorang petani kaya, yang mempunyai seorang istri yang sehat dan dua anak yang juga sehat dan tampan. Petani itu berkata: “Kerajaan Allah adalah sebuah taman yang indah dimana kami akan melanjutkan kehidupan bahagia yang sudah kami mulai dari dunia ini”.

Mungkin godaan yang paling besar yang dialami oleh seorang pengkhotbah ialah berpikir bahwa hanya dialah yang mempunyai teologi dan yakin yang terbaik yang harus dikerjakan ialah mengajar semua orang yang mendengarkan khotbahnya untuk menerima jalan pikirannya. Namun dengan demikian dia tidak menyadari bahwa dia belum mencintai sesamanya seperti dirinya sendiri dalam arti yang sebenarnya, karena dia belum mempertimbangkan gagasan-gagasan dan pengalaman-pengalaman mereka dengan sungguh-sungguh seperti dia mempertimbangkan gagasan dan pengalamannya sendiri.

Jika benar demikian maka banyak dari antara mereka yang mendengarkan pandangannya akan menjadi tak acuh atau jengkel tanpa persis tahu mengapa. Dan pengkhotbah sendiri yang telah menyediakan waktu untuk mempelajari buku dan mempersiapkan khotbah akan merasa semakin kecewa kalau dia mulai merasa bahwa tidak seorang pun tidak ingin mendengarkan Sabda Allah. Namun sementara itu dia lupa bahwa Sabda Allah tidak harus persis sama dengan sabda-sabdanya sendiri. Kalau seorang pengkhotbah memusatkan perhatiannya pada perasaan-perasaan yang sebetulnya tidak dialami oleh umat dan terlalu disibukkan oleh teologinya sendiri, dia bukannya saja melemahkan tetapi akan memperkuat sikap menolak yang sudah kian ada terhadap pesan.

Sekarang mungkin kita tergoda untuk bertanya bagaimana pengkhotbah dapat mengatasi masalah ini. Namun sejak permulaan harus kita katakan bahwa pertanyaan itu sendiri keliru, karena tidak ada alat, teknik atau ketrampilan khusus yang dapat memecahkan masalah pengkhotbah tersebut. Oleh karena itu marilah kita sekarang melihat siapakah yang dapat membantu orang lain sampai kepada pemahaman ini.

D.  Orang Yang Menghantarkan Kepada Pemahaman.
Tugas setiap pengkhotbah ialah mendampingi orang lain dalam perjuangan mereka yang terus menerus untuk menjadi manusia yang seutuhnya. Tugas ini dilaksanakan pertama-tama dengan berbicara mengenai Kristus, yang menghayati hidupnya dengan kesediaan yang semakin penuh untuk menghadapi keadaannya sendiri dan keadaan dunia dinama dia hidup sedemikian rupa sehingga orang lain didorong untuk mengikutinya, artinya agar orang menghayati hidupnya secara otentik, juga kalau cara hidup itu akan mendatangkan air mata dan keringat atau bahkan mungkin akan membawanya kepada kematian yang bengis.

Setiap pengkhotbah diharapkan untuk menyingkirkan halangan-halangan yang merintangi proses pemanusiaan yang menyakitkan ini. Tugas ini adalah tugas yang sulit karena rupanya ada kekuatan melawan yang mendasar dalam diri manusia akan perubahan, sekurang-kurangnya kalau perubahan itu menyangkut pandangan dasar mengenai kehidupan dengan berbagai cara dia menolak penggilan dari Dia yang mengatakan bahwa “Ketika engkau masih muda engkau mengikat pinggangmu sendiri dan engkau berjalan kemana engkau kehendaki, tetapi jika engkau sudah menjadi tua, engkau akan mengulirkan tanganmu dan orang lain akan mengikat engkau dan membawa engkau ke tempat yang tidak kau kehendaki” (Yohanes 21:18). Hal ini sangat bertentangan dengan gagasan kita bahwa kedewasaan berarti kemampuan untuk mengurus diri sendiri. 

Yesus menggambarkan kedewasaan sebagai kesediaan yang terus berkembang untuk mengulurkan tangan dan dipimpin oleh orang lain. Maka tidak heran jika seorang pengkhotbah yang berharap untuk mengangkat rintangan-rintangan yang menghalangi proses perkembangan ini dan menjadikan umatNya bebas untuk menyerahkan diri dan membiarkan orang lain memimpinnya, dianggap sebagai seorang yang sangat pemberani.

Dua segi dari berkhotbah yang rupanya paling pokok bagi seorang pengkhotbah untuk mempermudah proses pemanusiaan manusia, adalah sebagai berikut:

  1. 1.    Kemampuan untuk berdialog.
Dialog adalah cara berkomunikasi/berhubungan dengan sesama baik laki-laki maupun perempuan yang membuat mereka menanggapi apa yang dikatakan berdasarkan pengalaman hidup mereka sendiri. Dengan demikian dialog bukanlah suatu teknik melainkan sikap pengkhotbah yang bersedia masuk dalam satu hubungan dimana tiap-tiap pihak dapat saling mempengaruhi. Dalam sebuah dialog yang sejati seorang pengkhotbah tidak bisa berdiri di luar. Dia tidak dapat tinggal tak tersentuh dan tak terkena. 

Ia harus seituhnya terlibat secara pribadi. Proses semacam ini merupakan sebuah proses batin yang murni dan tidak memakai pertukaran kata tetapi menuntut keterlibatan yang benar-benar dalam hubungan antara dia yang berbicara dengan mereka yang mendengarkan. Akan tetapi jikalau seorang pribadi yang gelisah dan tak dapat ditembus, didekati oleh seorang kawan yang menyatakan solidaritas terhadapnya dan menawarkan pemahaman dan pengertian sebagai sumber pengenalan dan penjernihan, kalau kekalutannya dapat diangkat dan jalan yang dapat membawanya kepada terang akan mejadi tampak.

  1. 2.    Keterbukaan
Keterbukaan adalah syarat utama untuk setiap dialog, yang mengarahkan kepada pemahaman yang membebaskan. Seorang pengkhotbah yang bersedia terbuka menjadikan pengertian akan iman dan kebimbangannya, kecemasan dan harapannya, ketakutan dan kegembiraannya sendiri sebagai sumber pengenalan yang dapat digunakan oleh orang lain. Tidak akan dapat berharap untuk mengangkat berbagai rintangan yang menghalangi Sabda Allah agar menghasilkan buah.

Akan tetapi persis disinilah kita sampai pada spiritualitas pengkhotbah itu sendiri. Supaya dapat terbuka bagi orang lain, ia harus pertama-tama terbuka bagi dirinya sendiri. Seorang pengkhotbah yang ingin menjadi seorang pemimpin sejati ialah orang yang dapat membuka seluruh pengalaman hidupnya, misalnya pengalamannya dalam doa, pengalaman dan bercakap-cakap dan dalam saat-saat sepi dan membuat dirinya bersedia bagi mereka yang memintanya sebagai pengkhotbah mereka. Pelayanan pastoral tidak berarti lari kesana-kemari, mencoba menebus umat, menyelamatkan mereka pada saat terakhir atau menempatkan mereka pada jalan yang benar melalui pemikiran yang baik, kata-kata yang cerdik, atau nasehat yang praktis.

Kalau orang mendengarkan seorang pengkhotbah yang sungguh-sungguh terbuka bagi dirinya sendiri dan oleh karena itu dapat menawarkan pengalaman hidupnya sebagai sumber pengenalan, dia tidak lagi harus merasa takut untuk berhadapan dengan keadaan dirinya sendiri dan dunia ini karena orang yang berdiri di hadapannya adalah saksi-saksi hidup yang menunjukkan bahwa pemahaman membuatnya bebas dan tidak membuahkan kecemasan-kecemasan yang baru. Baru pada saat itulah ketidak-acuhan dan kejengkelan dapat disingkirkan. Dan saat itu juga Sabda Allah yang begitu kerap diulang akan tetapi dimengerti begitu sedikit, menemukan tanah yang subur dan berakar dalam sanubari manusia.

Dengan demikian kita sudah melihat bagaimana melalui keterbukaan dialog yang sejati yang dapat membawa ke pemahaman yang baru, dapat terjadi. Ini berarti bahwa Sabda Allah yang merupakan tanda perbantahan dan pedang yang menembus hati manusia, hanya dapat sampai kepada seseorang kalau sudah menjadi darah dan daging dari dia yang mengkhotbahkannya. 

Tuhan Yesus memberkati.  HALELUYA!!!!
Selengkapnya...